Cari

Ayom News

Inspirasi Anak Indonesia

Kategori

Berita

Berita tentang anak dari media massa

Mudik Belum Nyaman Untuk Anak-Anak

20120814115516648

Mudik merupakan tradisi yang tak dapat dilepaskan menjelang Lebaran terutama oleh warga yang tinggal di kota besar seperti Jakarta.

Namun, sayangnya tradisi mudik sering kali mengabaikan kenyamanan dan keamanan, terutama bagi anak yang diikutsertakan oleh keluarga.

Bahkan, jumlah anak yang menjadi korban saat mudik terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Continue reading “Mudik Belum Nyaman Untuk Anak-Anak”

Gara-gara Rokok, Kesehatan 89 Juta Anak Terganggu : Komnas PA Gugat Pemerintah dan Produsen Rokok

Ancaman dampak asap rokok rokok masih terus menghantui. Diantaranya dirasakan oleh Komnas Perlindungan Anak (PA). Mereka memperkirakan kesehatan 89 juta jiwa anak-anak mulai rusak akibat menjadi perokok aktif maupun pasif. Gugatan hukum siap mereka tembakkan untuk pemerintah dan produsen rokok.

Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait mengatakan, saat ini ada 89 juta keluarga perokok. Dia memperkirakan, jika setiap keluarga tadi memiliki satu anak, berarti ada 89 anak yang kesehatannya terancam rusak akibat menghirup asap rokok.

Kasus ini menuntut tanggung jawab produsen rokok dan pemerintah. Arist berpendapat, dua pihak tadi memiliki berperan di balik fenomena mulai banyaknya gangguan kesehatan akibat rokok yang dialami anak-anak.

Untuk mempertajam gugatannya itu, Arist dan kawan-kawan di Komnas PA sedang mengoleksi kasus-kasus kesehatan anak. “Sementara kami mendapatkan 20 kasus yang paling menonjol,” katanya. Dari seluruh kasus tersebut, gangguan kesehatan paling banyak adalah paru-paru. Dia menarget gugatan ini sudah masuk ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat akhir Mei mendatang.

Khusus untuk produsen rokok, Arist mengatakan menanggung tanggung jawab paling besar. Dia menganalisa, iklan-iklan rokok saat ini sudah mulai menggiring terciptanya perokok-perokok pemula. Kemunculan perokok-perokok baru ini mulai dipupuk sejak remaja bahkan anak-anak.

Tujuan dari iklan yang berbau regenerasi perokok ini, menurut Arist sangat membahayakan. Regenrasi ini menurutnya dilakukan untuk menggantikan perokok-perokok yang sudah mulai mati karena menderita penyakit akibat asap rokok.

Sedangkan untuk pemerintah, Arist mengatakan tidak ada konsistensi. Dia menyebutkan, program kawasan tanpa rokok (KTR) yang sering digaungkan masih belum efektif. Dia berharap, jika benar-benar diterapkan KTR ini berlaku mulai dari rumah. “Anak-anak juga jangan sampai terpapar asap rokok ketika berada di rumah,” katanya.

Dia juga mendesak pemerintah untuk lebih ketat mengatur peredaran rokok. Diantaranya tidak dijual secara terbuka di kios-kios. Mudahnya orang dewasa mendapatkan rokok ini menurutnya bisa dicontoh anak-anak. Dengan uang saku yang mereka miliki, bisa untuk membeli rokok walaupun hanya sebatang.

Puncak dari gugatan tersebut, Arist meminta rancangan peraturan pemerintah (RPP) tentang pengendalian tembakau bisa segera disahkan. Dia mengatakan, RPP ini terus ngendon di pemerintah karena terjadi tarik ulur antara produsen rokok dengan pemerintah.

Dia menilai tarik ulur pengesahan RPP tentang pengendalian tembakau ini membuat opini masyarakat terpecah. Di satu sisi dimunculkan opini jika RPP ini digedok makan akan mengancam kesejahteraan petani tembakau. Sementara di sisi lain, opini RPP ini menjadi alat pengendali dampak kesehatan akibat tembakau juga masih kuat.

Sumber : jpnn.com

Industri Pariwisata Belum Ramah Anak

Jakarta – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) membangun infrastruktur industri pariwisata di Indonesia, yang dinilai belum belum ramah anak.

“Hingga saat ini saya belum melihat pariwisata di Indonesia yang ramah anak. Karena beberapa ciri-ciri pariwisata ramah anak belum sepenuhnya terpenuhi, seperti diantaranya kawasan pariwisata yang belum terbebas dari eksploitasi seksual komersial anak,” ujar Sofyan Farid Lembah, Ketua Komisi Penguatan Lembaga dan Kerjasama Antar Lembaga Komisi Nasional Perlindungan Anak, Selasa (15/05/12) kepada Inilah.Com

Selain itu, lanjutnya, belum adanya kawasan tanpa asap rokok dikawasan pariwisata dan satu hal yang terpenting adalah belum adanya kawasan pariwisata yang memenuhi kebutuhan anak untuk mendorong proses tumbuh kembangnya anak.

Untuk membangun pariwisata yang benar-benar ramah anak, kata Sofyan, Pemerintah perlu menyusun master plan konsep pariwisata ramah anak yang menjadi pedoman nasional tanpa menghilangkan kearifan lokal masyarakat setempat.

Yang kedua adalah perlunya melakukan kajian-kajian dampak pengembangan pariwisata terhadap proses tumbuh kembang anak.

Ketiga membangun sarana dan prasana kebutuhan anak di kawasan pariwisata yang mampu mendorong proses kreativitas dan media pembelajaran serta pendidikan bagi perkembangan anak.

“Satu hal yang terpenting dan harus mendapatkan fasilitasi dari negara adalah perlunya negara mendengarkan suara dan pendapat anak untuk memberikan masukan mengenai kebutuhan pariwisata ramah anak sekaligus memberikan penghargaan hak partisipasi anak bagi pengembangan kepariwisataan di Indonesia,” tandas Sofyan.

Sumber : Inilah.com

Awas, Anak-anak Rentan Kecanduan Internet!

Tak ada yang memungkiri manfaat internet dalam kehidupan sehari-hari. Namun tetap saja, segala hal yang berlebihan tetap tidak baik, termasuk internet yang bisa bikin kecanduan. Awasi anak-anak Anda, karena mereka adalah kalangan yang paling rentan jadi pecandu web.

Menurut hasil studi dari Public Administration Ministry and the National Information Society Agency, anak-anak di rentang umur 5-9 tahun memiliki tingkat kecanduan internet sebesar 7,9%. Angka ini ternyata lebih besar ketimbang orang dewasa di rentang 20-49 tahun yang cuma 6,8%.

Sementara kalangan ABG atau di rentang 10-19 tahun mendapat proporsi yang paling tinggi, yakni 10,4%. Khusus kalangan murid sekolah menengah atas penetrasinya lebih tinggi lagi, yakni 12,4%.

Dilansir AsiaOne, riset ini sendiri menjangkau sekitar 10.000 responden, dengan rincian 663 anak-anak, 2.130 remaja, dan 7.207 orang tua. Metode yang dilakukan adalah wawancara satu per satu dalam periode 24 Oktober hingga 10 Desember 2011.

“Anak-anak dan remaja masih sulit untuk mengontrol emosi mereka, sebab mereka masih dalam tahap perkembangan. Sehingga mereka cenderung lebih mudah untuk kecanduan internet dibanding orang dewasa,” ujar oo Jee-hyang, konselor di Seoul Culture High School.

Urusan gender ternyata juga berpengaruh terhadap tingkat ketergantungan dari internet. Dimana dalam studi ini disebutkan bahwa pria lebih mudah kecanduan internet dibanding wanita dengan perbandingan 9,1% dengan 6,1%.

Lalu bagaimana ciri-ciri mereka yang sudah kecanduan internet? Riset ini menyebut minimal orang tersebut menghabiskan waktu 2,7 jam per hari di dunia maya atau online gaming secara terus menerus.

Dominasi anak-anak juga terlihat ketika responden ditanyai soal ketergantungan mereka terhadap smartphone. Dimana hasilnya adalah, 11,4% remaja merasa ketergantungan sedangkan orang dewasa cuma 10,4%.

Sumber : inet.detik.com

Hindari Sebut Anak Nakal atau Bodoh

Pernah lihat anak suka memukul? Jangan langsung menuding tayangan kekerasan di televisi sebagai biangnya. Perilaku anak tak hanya dipengaruhi tayangan televisi.

Pola asuh yang diterapkan terhadap mereka juga vital. Apalagi bila orang tua menerapkan pola asuh yang membingungkan saat mereka sedang tumbuh kembang. Dengan begitu, akan terjadi inkonsistensi pada mereka.

Misalnya, seorang anak meminta sesuatu kepada orang tuanya di tempat umum dengan cara menangis keras sambil mengguling-gulingkan badan di tanah. Saat itu orang tuanya menuruti kemauan si kecil dengan dalih agar anak diam dan orang tua terhindar dari rasa malu di tempat umum.

Tapi, sesampai di rumah, saat tidak ada orang lain, anak dipukul. “Hal seperti itu membuat anak bingung,” kata dr Yunias Setiawati SpKJ, supervisor Day Care Psikiatri Anak RSU dr Soetomo Surabaya.

Selain menimbulkan kebingungan, anak bisa meniru perilaku negatif yang diterapkan orang tua tersebut. Tanpa sadar tindakan memukul yang dilakukan orang tua itu menciptakan pola asuh negatif pada anak.

Tentu, tayangan sarat kekerasan di TV juga berpengaruh. Karena itu, saat anak menonton televisi, orang tua dianjurkan mendampingi. Dengan begitu, anak mendapatkan tayangan yang sesuai dengan mereka dan terhindar dari tayangan yang tidak mendidik. Misalnya, tayangan yang melankolis atau menghadirkan contoh kekerasan.

“Tapi, orang tua juga tidak boleh overprotektif. Sebab, sifat tersebut bisa membuat anak tidak mampu berkembang maksimal,” ucap Yunias.

Sebaliknya, sifat permisif yang terlalu memanjakan dan menuruti kemauan anak juga perlu dihindari. Sebab, anak yang mendapatkan perlakukan seperti itu akan menjadi anak egois, kejam, dan tidak bisa berempati. “Jika anak memukul, jangan dibalas dengan memukul,” katanya.

Tindakan yang mestinya dilakukan orang tua adalah memberikan pengertian kepada anak bahwa tindakan itu menimbulkan rasa sakit pada orang lain. “Orang tua bisa bertanya kepada anak. Misalnya, kalau Adik dipukul sakit atau tidak? Adik mau dipukul apa tidak? Jika suka memukul, teman senang atau tidak?” terang Yunias.

Bila pertanyaan-pertanyaan sederhana itu dijawab anak, orang tua dapat leluasa mendengarkan isi hati si kecil, sekaligus memberi pengertian akibat tindakan yang dilakukan. Misalnya, bila anak menjawab dipukul sakit, orang tua bisa mengatakan, “Nah, karena itu, memukul orang lain tidak boleh dilakukan”.

Demikian pula bila mereka bilang tidak ingin dipukul, orang tua bisa mengatakan bahwa orang lain juga tidak ingin dipukul. “Saat anak memukul, jangan langsung dimarahi, apalagi membalas memukul. Lebih baik lakukan pendekatan seperti teman,” katanya.

Yunias juga mengingatkan orang tua agar jangan sampai mengeluarkan kata-kata tidak baik saat anak berlaku negatif. Misalnya, bilang si anak nakal, bodoh, atau kata sejenisnya. Sebab, perkataan itu akan terus terpatri dalam hati mereka. Dampaknya, saat besar anak potensial mengalami gangguan tingkah laku. “Julukan-julukan tidak baik itu akan membuat mereka minder,” ungkap Yunias.

Sumber : mutiara-hati.com

Blog di WordPress.com.

Atas ↑