Cari

Ayom News

Inspirasi Anak Indonesia

Kategori

Artikel

MENGENAL DAN MEMAHAMI KEPRIBADIAN ANAK ANDA

 

 

Tidak ada anak yang dilahirkan sama persis satu sama lain. Berbagai studi telah menegaskan bahwa anak-anak dilahirkan dengan berbagai pribadi unik yang dibentuk oleh dunia di sekelilingnya. Namun demikian, faktor yang paling dominan tetaplah  kepribadian yang mereka bawa semenjak lahir. Mungkin anak yang satu supel dan mudah bergaul, sementara yang lain lebih suka menyendiri.  Mungkin yang satu senang akan perhatian terus menerus, sementara yang lain tidak terlalu mempermasalahkannya. Karakter-karakter yang dimiliki anak jelas akan sangat mempengaruhi bagaimana mereka berinteraksi dengan dunia yang ada di sekeliling mereka.

Tidak dapat dipungkiri bahwa faktor lingkungan akan sangat berpengaruh dalam membentuk karakter dan kepribadian bawaan dari seorang anak. Lingkungan lingkar satu: keluarga inti—ayah, ibu, saudara kandung, serta lingkungan lingkar dua:  keluarga besar—kakek, nenek, paman, bibi, tentunya berperan sangat penting atas terbentuknya karakter dan kepribadian seorang anak.

Dalam sebuah studi yang pernah dilakukan atas anak-anak kembar yang dibesarkan secara terpisah, terungkap bukti meyakinkan bahwa karakter dan kepribadian itu diturunkan.  Dengan mempersatukan serta menguji anak-anak kembar yang tadinya dipisahkan sejak lahir dan diadopsi oleh keluarga dengan latar belakang yang berbeda-beda, lalu dibesarkan tanpa ada kontak apapun, disimpulkan bahwa prilaku setelah dewasa ternyata diwarisi lebih dari yang pernah dibayangkan sebelumnya.  Anak-anak kembar itu ternyata sangat mirip wajahnya, tingkah lakunya, sikapnya, daya sosialnya, termasuk karakter dan kepribadiannya.

Namun demikian  jangan pernah Anda mengabaikan pengaruh yang berasal dari lingkungan lingkar tiga, empat, dan seterusnya.  Pengaruh yang datang dari teman-teman yang ada di lingkungan tempat tinggal ataupun sekolah justru cenderung lebih kuat dan dapat mengubah karakter dan kepribadian dasar yang didapat karena keturunan.Karena Anda tidak mungkin memilih kepribadian—untuk Anda sendiri maupun untuk anak-anak Anda—maka yang bisa Anda perbuat hanyalah mengidentifikasi serta menekuni kepribadian yang sudah diberikan dan disuratkan oleh Tuhan kepada Anda dan juga anak-anak Anda ini.

Dengan mengetahui karakter dan kepribadian anak Anda, diharapkan komunikasi dan interaksi antara Anda dengan mereka akan menjadi lebih mudah, lebih efektif dan dapat membantu Anda mencapai keharmonisan ideal seperti yang Anda inginkan.  Florance Littauer di dalam  bukunya Personality Plus For Parents, mengatakan: ada empat kepribadian dasar yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi karakter dan kepribadian anak Anda, yaitu:

1.   Kepribadian Populer— Sanguinis

Motto: “Ayo kita bersenang-senang sekarang.”

Julukan: “Si tukang bicara.”

Anak dengan  karakter dan kepribadian Sanguinis Populer adalah anak yang cenderung berenergi besar, suka bersenang-senang dan supel.  Mereka juga suka mencari perhatian, kasih sayang, dukungan, dan penerimaan dari orang-orang yang ada di sekeliling mereka.

Anak Sanguinis  yang suka hura-hura ini hampir selalu membawa kegembiraan  maupun drama  ke dalam situasi apapun, suka menjadi sorotan, dan suka memotivasi orang lain. Merekalah yang menginisiatifkan percakapan dan bisa seketika itu juga menjadi sahabat terbaik dengan semua orang di dalam kelompoknya.

Mereka biasanya optimis dan hampir selalu menyenangkan.  Namun mereka bisa juga tidak teratur, emosional, dan hipersensitif tentang apa kata orang terhadap mereka.

Menghadapi anak dengan  karakter dan kepribadian sanguinis, pendekatan komunikasi yang sebaiknya dilakukan oleh orangtua sebisa mungkin harus kreatif karena anak sanguinis menyukai keanekaragaman dan senang menjadi pusat perhatian. Anak tipe ini akan memberikan respon terhadap afeksi, percakapan, dan perhatian yang sifatnya pribadi.

Apabila memintanya untuk mengerjakan suatu tugas, biarkan mereka menyelesaikannya secara kreatif dengan hanya memberikan kisi-kisinya saja. Pastikan untuk menawarkan struktur kepada mereka, termasuk juga kedisiplinan yang positif dan penuh semangat.  Dukung mereka untuk ikut di dalam banyak kegiatan kelompok serta konseling anak-anak seusianya. Mereka juga pandai mencari dana dan semakin tertantang  ketika diperkenalkan kepada orang lain dengan cara yang heboh dan menyenangkan.

2.   Kepribadian Kuat—Koleris

Motto: “Lakukan saja sekarang.”

Julukan: “Si pelaksana.”

Anak dengan  karakter dan kepribadian Koleris Kuat adalah anak yang secara alami berorientasi pada sasaran, yang hidupnya dicurahkan untuk berprestasi, dan yang cepat mengorganisasikan.  Mereka selalu menuntut loyalitas dan penghargaan dari orang-orang yang ada di sekeliling mereka.

Anak Koleris selalu berusaha mengendalikan dan mengharap pengakuan atas prestasi-prestasinya.  Mereka suka ditantang dan mudah menerima tugas-tugas sulit.  Disiplin diri serta kemampuan untuk fokus membuat mereka menjadi pemimpin-pemimpin yang kuat.

Namun dorongan serta tekad mereka bisa membuat mereka kecanduan kerja,  merasa sok benar sendiri serta keras kepala, dan  membuat mereka tidak peka terhadap perasaan orang lain.

Menghadapi anak dengan karakter dan kepribadian koleris, pendekatan komunikasi yang sebaiknya dilakukan oleh orangtua sebisa mungkin tidak melibatkan perasaan dan  menghakimi.  Anak tipe ini cenderung tidak berperasaan, sehingga orangtua yang demonstratif tidak boleh tersinggung atau pun sakit hati bila anak-anak memberikan respon yang keras saat ditegur atau diperintah.  Anak-anak ini sangat menghargai keadilan, logika, kejujuran, serta keterus-terangan.

Apabila memintanya untuk mengerjakan suatu tugas, berikan dengan jelas tujuannya tanpa bermaksud mengatur langkah-langkahnyastep by step.  Anda harus memberikan pekerjaan dengan menyebutkan manfaat dan kegunaannya.  Jangan lupa tanyakan kapan dan bagaimana cara mereka akan menyelesaikannya agar Anda bisa memprediksi dan mengukur hasil-hasil capaiannya.

3.  Kepribadian Sempurna—Melankolis

Motto: “Ayo kita kerjakan secara benar.”

Julukan: “Si pemikir.”

Anak dengan  karakter dan kepribadian Melankolis Sempurna adalah anak yang cenderung  pendiam dan pemikir. Mereka akan selalu berusaha mengejar kesempurnaan dalam segala hal yang penting bagi mereka.  Dengan kesempurnaan sebagai sasaran, anak-anak seperti ini seringkali kecewa dan bahkan depresi karena hasil yang didapatkan kurang sempurna.

Anak Melankolis selalu membutuhkan kepekaan serta dukungan dari orang lain.  Mereka perlu ruangan dan ketenangan di mana mereka dapat berfikir sebelum mereka berbicara, menulis, atau bahkan bertindak.  Mereka adalah anak-anak yang berorientasi pada tugas yang penuh kehati-hatian dan terorganisasikan.

Mereka suka akan keteraturan dan Anda dapat mengandalkan mereka untuk menyelesaikan suatu tugas tepat pada waktunya.   Namun kesempurnaan yang menjadi obsesi mereka itu bisa membuat mereka kritis atau pesimis dengan upaya untuk memenuhi standar diri sendiri yang tinggi.

Menghadapi anak dengan karakter dan kepribadian melankolis, pendekatan komunikasi yang sebaiknya dilakukan oleh orangtua harus dipenuhi dengan penghargaan atas apa saja yang telah mereka lakukan dengan baik. Anak tipe ini cenderung tidak kompetitif dan bisa jadi tidak akan terlalu merespon iming-iming hadiah ataupun permainan yang Anda ajukan.

Apabila meminta mereka untuk mengerjakan suatu tugas, sampaikanlah dengan cara yang tidak menyuruh dengan  nada yang datar dan lembut, seperti: “Kamu belum mengerjakan pe-er kamu, ya, hari ini?”—bukan: “Ayo, kerjakan pe-er mu sekarang!”. Apabila tugas yang Anda berikan kepada mereka tidak selesai, tidak perlu berargumen apapun. Sebaiknya, berikan saran yang membangun, bukan kritikan tajam.  Karena mereka cenderung perfeksionis, mereka akan merngkritik diri mereka sendiri tanpa perlu Anda minta.

4.  Kepribadian Damai—Phlegmatis

Motto: “Untuk apa berdiri kalau bisa duduk.”

Julukan: “Si pengamat.”

Anak dengan  karakter dan kepribadian Phlegmatis Damai adalah anak yang cenderung  seimbang dan mencukupkan diri.  Mereka tidak merasa harus ikut mengubah dunia atau mengusik status quo mereka.  Bagi orang-orang yang memiliki dorongan kuat, anak Phlegmatis terlihat lebih lamban dari yang lain.  Ini bukan karena mereka tidak secerdas yang lain, tapi justru karena mereka lebih cerdas dari yang lain.  Sementara yang lain mengomel dan khawatir, mereka mengamati saja dan bertekad  untuk tidak mempersoalkan  hal-hal sepele.

Mereka tidak suka resiko, tantangan, dan kejutan, dan akan membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan.  Walaupun mereka cenderung menghindari situasi-situasi yang terlalu menekan, mereka dapat bekerja dengan baik di bawah tekanan.  Namun kurangnya disiplin dan motivasi sering membuat mereka menunda-nunda pekerjaan kalau tak ada pemimpin yang kuat.

Anak Phlegmatis juga censerung menarik diri, namun  suka berada di dekat orang banyak.  Meski mereka tidak butuh  banyak bicara, mereka memiliki banyak akal  dan suka mengucapkan  hal yang tepat di saat yang tepat.  Mereka mantap dan stabil. Karena berorientasi pada ketentraman, mereka suka menciptakan  keamanan bagi lingkungannya dengan cenderung bertindak sebagai negosiator ketimbang melawan.

Menghadapi anak dengan karakter dan kepribadian phlegmatis, pendekatan komunikasi yang sebaiknya dilakukan oleh orangtua sebisa mungkin penuh persahabatan dan tanpa ancaman.  Anak tipe ini cenderung bersikap sebagai seorang pendengar dan pengamat yang baik. Memberi contoh yang baik adalah  hal yang harus dilakukan oleh orangtua dari anak dengan karakter dan kepribadian ini.  Sebagai seorang pendamai, anak-anak ini dengan senang hati akan mendamaikan teman atau pun anggota keluarga yang sedang berselisih.  Mereka akan berusaha mencarikan jalan keluarnya tanpa diminta.

Apabila memintanya untuk mengerjakan suatu tugas, berikan dengan pembagian tugas yang  jelas berdasarkan tingkatan agar mereka dapat dengan mudah memperhatikan keberhasilannya.Bila masalah yang sulit sudah diberikan di awal, anak tipe ini akan merasa kewalahan dan akan cenderung mengabaikannya.  Apabila mereka dihargai oleh orangtuanya, mereka akan merasa lebih bangga dengan diri mereka sendiri.

Selamat bersikap!

(PAPAKOKO)

Iklan

Restoratif Justice Sebuah Solusi Untuk Anak Berhadapan Dengan Hukum

Jakarta – Pada tahun 2012 ini, Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mencatat ada enam kasus anak yang berhadapan dengan hukum (ABDH) yang didampingi oleh Komnas PA dan Lembaga Perlindungan Anak sebagai perpanjangan tangan Komnas PA di daerah. Kasus yang terjadi di seperti Bali, Lampung, Sijunjung Sumatera Barat, NTT, Medan dan di Palu memperlihatkan belum berpihaknya hukum terhadap perlindungan anak yang berhadapan dengan hukum, ini dibuktikan dengan berakhirnya kasus-kasus anak berhadapan dnegan hukum di meja hijau.

“Kasus ini membuat Komisi III DPR RI tidak ada alasan lagi untuk segera mengesahkan RUU Peradilan Anak agar menjadi payung hukum bagi aparat penegak hukum dan Hakim untuk menerapkan restorative justice dalam penyelesaian ABDH,” kata Ketua Umum Komnas PA Arist Merdeka Sirait saat Testimoni AAL di Aula Komnas PA (11/01) kemarin.

Kenapa restorative justice ini menjadi penting karena di sana dihimpun bahwa kasus yang melibatkan anak bisa diselesaikan dengan mediasi dan tidak berujung di pengadilan. Arist mengharapkan aparat bisa membedakan kenakalan dan kejahatan. Kenakalan tidak dilakukan secara berulang sedangkan kejahatan bersifat otentik atau dilakukan secara berulang. Ia mencontohkan, Kasus AAL ini merupakan kasus kenakalan bukan kejahatan, dimana kejahatan memiliki unsur perbuatan berulang dan bisa memberi keuntungan atau memperkaya diri sendiri.

“Jika hanya berupa kenakalan, maka sebuah keharusan jika kita menerapkan Restoratif Justice menangani ABDH, kecuali jika dikategorikan kejahatan, ada langkah lain yang bisa ditempuh, pemidanaan hanyalah jalan akhir” ujar Arist.

Restorasi itu ada beberapa langkah, antara lain ada saling memaafkan antara pelaku dan korban yang dimediasi oleh aparat hukum khususnya kepolisian yang mempunyai hak diskresi kepolisian.

“Setelah proses itu digelar pemulihan, pembinaan dan pemantauan kepada anak tersebut oleh aparat penegak hukum. Jika masih berulang maka upaya terakhir pemidanaan baru bisa ditempuh dengan catatan perbuatan berulang dan ada unsur memperkaya diri sendiri. Untuk itu, Polisi dan jaksa ramah anak pun menjadi sebuah keharusan agar penanganan kasus anak lebih responsif kepada anak,” tandas Arist.

Sebenaranya sudah ada Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri yakni Menteri Hukum dan HAM, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak, dan Menteri Sosial mengenai restorative justice. SKB tiga menteri tersebut telah termuat kesepakatan bahwa menangani kasus yang melibatkan anak tidak harus diajukan ke pengadilan, namun implementasinya dipertanyakan. (Pepin&Meli)

UNTUK PARA ORANG TUA DAN GURU : RASA TAKUT, BUKAN HAL YANG PANTAS UNTUK DIWARISKAN

Rasa takut adalah emosi negatif yang menimbulkan rasa cemas yang meresahkan hati. Setiap orang berbeda-beda berreaksi terhadap rasa takut. Reaksi tersebut biasanya ditandai oleh rasa khawatir, gelisah, waswas, tidak tenteram, panik dan sebagainya. Namun sampai sebatas mana situasi jiwa berupa cemas itu dapat ditoleransi oleh seorang individu sebagai kesatuan utuh. Karena seringkali ”cemas” menimbulkan keluhan fisik berupa berdebar-debar, berkeringat, sakit kepala, mual-mual, histeris bahkan gangguan fungsi seksual dan beragam lainnya.

Ada 2 keadaan yang merupakan respon terhadap rasa cemas. Pertama, keadaan cemas yang wajar merupakan respons terhadap adanya ancaman atau bahaya luar yang nyata jelas dan tidak bersumber pada adanya konflik. Keadaan kedua, cemas yang sakit (anxietas) merupakan respons terhadap adanya bahaya yang lebih kompleks, tidak jelas sumber penyebabnya, dan lebih banyak melibatkan konflik jiwa yang ada dalam diri sendiri.

Rasa takut juga berhubungan dengan pikiran, memori, perasaan, atau kata-kata, seringkali rasa takut dan cemas dihasilkan oleh produk negatif pikiran kita dan lingkungan sekitarnya. Bila produk negatif pikiran tersebut telah menjadi suatu keyakinan tentu hal ini akan mempengaruhi perkembangan pribadi seseorang. Suatu ungkapan-ungkapan yang telah menjadi kebiasaan dari orang dewasa sekitar kita ketika kita kecil, misalnya jangan nakal, nanti ditangkap polisi, jangan nangis terus.., nanti panggil dokter biar disuntik, jangan bermain ditempat gelap nanti  “kesambet” (diganggu setan), dan banyak lagi ungkapan lain yang mungkin bermaksud baik tapi dapat mempengaruhi pandangan anak terhadap polisi, dokter dan dunia mistis. Ungkapan ungkapan seperti itu mungkin sudah dianggap ‘wajar’ oleh masyarakat kita, toh kalau sudah besar mereka akan mengerti sendiri bahwa itu hanya upaya untuk menyelesaikan masalah yang dianggap efektif, kalau anak tersebut sudah besar mereka akan mengerti sendiri.

Kekerasan verbal/psikis dan kekerasan fisik yang menimbulkan rasa takut terhadap anak justru dilakukan oleh orang-orang dekat di sekitar mereka.  Berdasarkan data Komnas Perlindungan Anak, tahun 2008 kekerasan fisik terhadap anak yang dilakukan ibu kandung mencapai 9,27 persen atau sebanyak 19 kasus dari 205 kasus yang ada. Sedangkan kekerasan yang dilakukan ayah kandung 5,85 persen atau sebanyak 12 kasus. Ibu tiri (2 kasus atau 0,98 persen), ayah tiri (2 kasus atau 0,98 persen).

Di dunia pendidikan juga tidak jauh beda, rasa takut, cemas, bahkan perbuatan tidak menyenangkan tersebut justru dilakukan oleh orang-orang dewasa yang berprofesi sebagai guru.  Hasil survey yang dilakukan oleh Riyanto Adi (2006) peneliti dari Universitas Atmajaya, membuktikan bahwa 80% guru masih melakukan kekerasan terhadap anak didik di sekolah. Para siswa, berdasarkan survei, mengaku pernah dimaki, diusir, diejek, dibentak, dihina dan diancam, bahkan disumpah serapahi guru mereka. Yang mengagetkan adalah pengakuan para guru bahwa sekitar 55% dari mereka pernah meminta muridnya untuk membersihkan WC sebagai bentuk hukuman.

Lebih lanjut Riyanto Adi mengatakan bahwa bentuk-bentuk kekerasan yang secara prosentase banyak diterima anak baik di rumah maupun di sekolah adalah: dipukul/disabet dan dicubit (kekerasan fisik); dicolek dan disingkap roknya (kekerasan seksual); dimarahi, diejek dan dimaki (kekerasan verbal/psikis). Diantara tiga kelompok bentuk kekerasan tersebut tersebut yang paling sering dialami anak adalah kekerasan verbal. Anak laki-laki pada umumnya lebih besar prosentasenya mendapat kekerasan fisik dibandingkan anak perempuan. Para pelaku utama berasal dari lingkungan dekat si anak, yakni orangtua, anggota keluarga (adik, kakak, tante, om, nenek, kakek), teman atau guru.

Perlakuan kekerasan yang diterima anak dapat memberikan dampak negatif bagi tumbuh kembang anak. Anak yang mengalami kekerasan akan mendapat gangguan psikologis seperti anak merasa takut dan cemas, menjadi kurang percaya diri, rendah diri maupun merasa tidak berarti dalam lingkungannya sehingga tidak termotivasi untuk mewujudkan potensi-potensi yang dimilikinya.

Berkaitan dengan gangguan psikologis atas rasa cemas yang menimbulkan keyakinan negatif, ada contoh percobaan yang dikutip dari Nilna Iqbal dalam www.jurnalpustakanilna.com mengutip sebuah artikel tentang percobaan yang dilakukan di Woods Hole Oceanographic Institute. Barangkali Anda pun bisa melakukannya. Ambillah sebuah akuarium, lalu bagi dua dengan dinding kaca yang bening sekali. Terciptalah semacam “akuarium ganda“. Sekarang carilah seekor ikan barracuda dan seekor ikan mullet (barracuda biasanya memangsa mullet). Masukkan keduanya ke dalam masing-masing akuarium. Lihatlah dalam sekejap saja, barracuda akan segera menyerang mullet. Lalu … duk! Ia ternyata menabrak dinding kaca pembatas yang kita pasang itu. Lalu ia berbalik lagi, mencoba lagi, menyerang lagi ….. duk! Lihat dan biarkan seperti itu sampai beberapa minggu.

Berkali-kali moncong barracuda akan kesakitan sekali karena menabrak dinding kaca sehingga akhirnya ia berkesimpulan dan memperoleh keyakinan bahwa “berburu mullet sama artinya dengan sakit”. Kini buka dinding kaca yang menjadi pemisah akuarium itu.  Coba tebak, apa yang terjadi? Lihatlah, ternyata barracuda akan membiarkan saja mullet berenang beberapa sentimeter di sampingnya, bahkan sampai akhirnya ia mati! Menyedihkan sekali, bukan? Tetapi bukankah sebenarnya, kebanyakan kita juga mengalami kisah yang sama?

Betapa banyak batasan yang membelenggu pikiran dan sikap kita. Keyakinan negatif, rasa takut dan cemas yang kita alami pada masa lalu, sering kali membuat kita terjebak dalam aquarium ganda tersebut. Begitu banyak peluang yang datang kepada kita, namun karena rasa takut, tidak segera kita tangkap. Begitu banyak anak-anak yang cerdas yang tidak kita upayakan maksimal, karena mereka terbelenggu oleh rasa cemas, rasa takut, kurang percaya diri, rendah diri dan merasa kurang berarti di lingkungannya.

Kita berada dalam penjara keyakinan dan kekhawatiran sendiri padahal kita tahu persis batas-batasnya tapi bodohnya, kita tak mau keluar dari batas-batas itu. Kita merasa tak sanggup menabraknya. Keyakinan itu telah menjadi batas wilayah, yang bahkan terus kita pertahankan sampai kini. Sekalipun ia menghancurkan kehidupan kita sehingga banyak juga orang yang ‘bahagia’ dalam kesengsaraan dan kebodohannya itu.

TIDAK PANTAS UNTUK DIWARISKAN

Kekerasan fisik dan psikis yang pernah kita alami sewaktu kecil dulu tidak selayaknya kita wariskan kepada anak-anak yang kita cintai dan murid-murid yang kita sayangi. Yusef Hilmi, seorang motivator, pada seminar “Smart Parenting” mengatakan bahwa  Bila hati ini diibaratkan sebuah papan yang mulus dan bersih, setiap orang tua yang melakukakan kekerasan, seperti halnya menancapkan sebuah paku pada papan yang bersih tersebut, semakin banyak kekerasan semakin banyak paku yang tertancap. Suatu ketika, orang tua tersebut menyadari perbuatannya dan menyesal melakukan kekerasan, hal ini ibarat mencabut paku dari papan yang telah dipaku tersebut, bila banyak penyesalan berarti banyak mencabut paku. Katakanlah semua paku sudah tercabut, apakah kemudian papan tadi bisa kembali mulus dan bersih?, jawabannya, tidak!, papan tersebut tetap terluka karena ada bekas lubang paku yang sudah tercabut.

Begitu juga hati manusia, bila ketika kecil sering mendapat perlakukan kasar dari orang-orang di sekitarnya, anak-anak tersebut tetap menyimpan luka, walaupun ilmu berpikir positif sudah dimilikinya ketika dewasa, tetap saja alam bawah sadar merasakan kondisi negatif yang pernah dialaminya tersebut.

Pendidikan adalah tempat strategis membangun anak bangsa yang cerdas seperti yang diamanatkan undang-undang. Guru merupakan kunci strategis membangun mental spritual anak bangsa tersebut. Peran strategis ini, bila dinikmati dan dilakukan dengan sungguh-sungguh dan para guru dan orang tua dapat mengganti ancaman menjadi harapan, mengganti kekerasan menjadi kasih sayang,  niscaya akan terwujud manusia indonesia yang cerdas, bermartabat dan berhati mulia. Semua itu dimulai dari orang tua dan peran kita, Para GURU Indonesia. (Joko Wahyono)

MANFAAT BERMAIN BAGI ANAK : BUKAN HANYA SEKEDAR HIBURAN (PART 2)

Bermain merupakan suatu kebutuhan mutlak bagi anak. Dengan bermain, anak akan mendapatkan hiburan yang menyenangkan dan kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lain.  Itu sudah pasti. Anak Anda, si kecil, akan belajar banyak hal di saat dia sedang melakukan aktivitas bermainnya, seperti bersosialisasi dan berbagi peran dengan teman. Tapi, tahukah Anda jika si kecil Anda mempunyai jenis permainan favorit?  Ya. Permainan yang menjadi favorit si kecil itulah yang biasa kita sebut sebagai hobi.Bersepeda, bermain bola, lari kesana-kemari, bahkan main video-game merupakan beberapa contoh hobi yang biasanya disukai anak.

Menonton teve dan bermain video gamemenjadi hobi yang banyak dipilih oleh anak-anak pada masa sekarang.  Hal ini tentu saja bisa dimaklumi, karena saat sekarang banyak anak-anak yang menghabiskan waktu luang mereka di depan pesawat televisi ataupun komputer.  Berbeda dengan anak-anak satu hingga dua generasi sebelumnya, saat televisi dan komputer belum begitu booming seperti saat ini.  Hampir semua anak kecil masa itu mempunyai hobi yang beragam, seperti: membaca dan menulis, mengkoleksi suatu barang tertentu (kartu basket, perangko, mobil-mobilan), bergabung di club (sepeda, sepatu-roda), hingga olahraga (basket, sepakbola, kasti, volley).

Hobi memiliki banyak sekali keuntungan, karena kegiatan itu merupakan ekspresi seseorang dan dirinya sendiri yang pada akhirnya akan membentuk rasa percaya diri.  Hobi juga merupakan alat pendidikan.  Diawali dengan hobi, anak akan belajar bagaimana menyusun strategi untuk mencapai tujuan, mengambil keputusan, dan memecahkan berbagai macam masalah sehingga sangat penting untuk masa depan dan juga karier anak di masa mendatang.

Anak yang senang pada suatu bidang, dengan sendirinya akan mencari tahu lebih banyak mengenai semua hal yang berhubungan dengan bidang yang disukainya itu.  Sebagai contoh, anak yang senang dengan pesawat terbang, maka biasanya mereka akan mempelajari dan mencari tahu kenapa pesawat bisa terbang, apa saja yang biasanya menjadi komponen dasar sebuah pesawat, dan mencari tahu macam-macam jenis pesawat hingga akhirnya dia tertarik dengan bidang aerodinamika.

Namun demikian, tidak semua hobi anak baik dan menguntungkan. Beberapa hobi yang biasa dilakukan anak, seperti: mengisap jempol, menggigit kuku, berkelahi, dan mengganggu teman, cenderung buruk untuk dilakukan. Untuk hobi yang buruk, Anda harus menyiasati dengan cara yang santun tanpa memarahi. Anda bisa mencoba mencari tahu hobi lain mereka yang lebih positif untuk kemudian mengalihkan kebiasaannya agar mau memfokuskan diri pada hobi yang baik dan bermanfaat tersebut.

Jika Anda ingin mengembangkan potensi anak dengan jalan memupuk hobinya, ada beberapa langkah yang bisa Anda ambil, seperti:

  • Memberi contoh

Pada umumnya, hobi anak tertular dari orang tua.  Seorang anak yang orang tuanya hobi bermain musik, maka mereka cenderung menyukai musik.   Anak seorang pemain sepakbola, cenderung untuk menyukai olahraga sepakbola. Selama hal tersebut positif, berilah si kecil Anda contoh yang dapat mengarahkan mereka pada tujuan profesionalisme mereka di kemudian hari.

  •  Siapkan sarana

Anak membutuhkan sarana untuk melakukan aktivitas hobinya  Siapkan ruangan untuk anakmelakukan kegiatan hobinya  Usahakan tak ada yang mengganggu daerah tersebut sehingga anak dapat berkreasi dengan bebas. Jangan lupa juga untuk melengkapinya dengan fasilitas yang mendukung.

  •  Jangan over-protektif

Biarkan si kecil Anda berkreasi sesuka mereka. Jangan pernah melarang, selama hal itu masih positif. Biarkan anak Andamenghadapi dan mengalami sendiri hal-hal yang sulit. Mereka akan belajar banyak hal dari pengalamannya itu.

  •  Jangan terlalu mengatur

Si kecil Anda memerlukan kebebasan dalam bermain, berkembang, dan menemukan jati diri mereka. Mereka juga perlu belajar mengatur diri sendiri serta berkreasi. Tugas Anda hanya mengarahkan. Biarkan si kecil Anda  tumbuh menjadi seorang dewasa yang kreatif dan dapat mengatur diri sendiri tanpa campur tangan Anda.

  •  Jangan paksakan kehendak

Anda boleh mengarahkan hobi dengan jalan menyiapkan sarana yang sesuai dengan bidang yang diminati si kecil. Tapi jangan sekali-kali Anda kelewat mengatur, apalagi memaksakan kehendak Anda pribadi.  Jangan paksa si kecil untuk mengikuti les balet apabila dia lebih suka karate.  Jangan paksa si kecil mengikuti les piano apabila mereka lebih suka mendalami bidang aerodinamika.

  •  Jangan coba menentukan masa depan

Anda tidak dapat dan tidak boleh mengatur kehidupan si kecil Anda, baik keberhasilan dan kegagalannya. Anda harus melihat si kecil Anda sebagai seorang individu, baik dari sisi kebutuhan maupun karakteristik kepribadiannya. Hargai si kecil Anda sebagai seorang individu dan jangan mengeluh dan menyesali bila si kecil Anda tidak menjadi seseorang seperti yang Anda impikan.

  • Jangan membanding-bandingkan

Jangan pernah membanding-bandingkan kepandaian atau keunggulan, termasuk cara mendidik, yang Anda lakukan atas si kecil dengan yang dilakukan orangtua lainnya yang kebetulananaknya lebih berprestasi. Jangan biasakan diri terlibat dalam perbandingan sosial. Jangan pula merasa lebih baik karena memiliki anak yang lebih baikdibandingkan anak lain. Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri jika si kecil Anda tidak sehebat teman-temannya. Yang terpenting adalah menjaga dan mempertahankan perasaan kemandirian si kecil Anda itu.

  • Luangkan waktu

Tidak ada yang akan membunuh hobi anak selain padamnya antusiasme dan rasa frustasi ketika anak tak bisa menyelesaikan karya atau kegiatannya.  Luangkan waktu dan bantu si kecil sehingga mereka merasa didukung dan akan makin semangat menekuni hobinya.

  • Dukung terus

Jangan lakukan evaluasi sepihak atas setiap langkah yang sudah atau pun tidak dilakukan si kecil Anda. Bukan jaminan bahwa sekolah favorit akan membuat si kecil Anda akan menjadi orang yang berhasil di kelak kemudian hari. Dampak dari sekolah hanya sedikit terhadap masa depan anak. Dukungan dari orangtua lah yang sangat dibutuhkan seorang anak dalam rangka mengembangkan potensinya. Teruslah mendukung si kecil Anda, karena mereka dapat merasakan apakah mereka dicintai hanya karena keberhasilannya atau bukan. Yang mereka butuhkan adalah dukungan, perhatian, dan cinta kasih Anda.

  • Batasi jam menonton teve

Daripada si kecil Anda menghabiskan waktu di depan teve atau komputer, batasi jam menonton teve mereka kemudian beri aktivitas yang lebih berguna.

 

(PAPAKOKO – disarikan dari berbagai sumber)

Negara, Pemerintah, Masyarakat, Keluarga dan Orang Tua Gagal Menjaga dan Melindungi Anak

Jakarta – Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) dalam Catatan Akhir Tahun 2011 ini menilai jika Negara, Pemerintah, Masyarakat, Keluarga dan orang Tua telah gagal melindungi anak dari tindak kekerasan.

Fakta ini diperkuat dari hasil analisa data-data yang dikumpulkan oleh Pusat Data dan Informasi Komnas PA, jika angka kekerasan pada tahun 2011 ini menunjukkan kenaikan yang cukup signifikan dan mengkhawatirkan. Dalam data yang dipaparkan oleh Sekretaris Jendral Komnas PA, Samsul Ridwan, Selasa (20/12) di Aula Komnas Anak, menunjukkan adanya peningkatan laporan atau pengaduan yang diterima oleh Divisi Pengaduan dan Advokasi Komnas Anak. Untuk jumlah pengaduan yang masuk peningkatannya mencapai 98 % pada tahun 2011 ini, yaitu 2.386 dari 1.234 laporan pada tahun 2010 silam. Begitu juga angka kasus kekerasan seksual meningkat menjadi 2.508 pada tahun 2011 sedangkan tahun 2010 sebanyak 2.413 kasus. 1.020 atau setara 62,7 persen dari jumlah angka tersebut adalah kasus kekerasan seksual yang dilakukan dalam bentuk sodomi, perkosaan, pencabulan serta incest, dan selebihnya adalah kekerasan fisik dan psikis.

Trend peningkatan pun terlihat pada kasus anak yang berhadapan dengan hukum. Pada tahun 2010 hanya 703 kasus, tahun 2011 meningkat menjadi 1.851 kasus, dimana 89,9 % dari kasus itu berujung pada pemidanaan anak. Begitu juga pada laporan yang berkaitan dengan bayi dibawah lima tahun (balita), semuanya mengalami trend kenaikan, baik itu laporan aborsi, pembuangan bayi oleh orang tuanya hingga penculikan bayi.

Di sisi lain, anak korban gizi buruk pun masih menunjukkan angka yang memprihatinkan. Data yang dirilis dari Lembaga Perlindungan Anak di 33 provinsi menujukkan sekitar 10 Juta anak Indonesia kekurangan gizi dan 2 juta diantaranya menjadi korban gizi buruk. Hal ini bisa ditemui di Pulau Sumatera, Sulawesi dan Nusa Tenggara.

Angka yang terlibat tawuran atau kekerasan di lingkungan sekolah pun meningkat dratis, dari hanya 128 kasus pada tahun 2010 menjadi 399 kasus pada tahun 2011 dan 82 orang meninggal dalam tawuran tersebut.

Ketua Umum Komnas PA Arist Merdeka Sirait secara tegas menyatakan jika Negara dan Pemerintah telah gagal menjalankan perannya dalam melindungi anak-anak Indonesia dari kekerasan. Keyakinan ini diperkuat karena menurut penelitian yang dilakukan oleh Wahana Visi Indonesia (WVI) yang bergerak pada daerah terpencil, masih banyak masyarakat yang melakukan tindakan kekerasan karena tidak mengetahui adanya UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

“Hal ini membuktikan jika Negara telah gagal menjalankan perannya sebagai implementor UU Perlindungan Anak dan mensosialisasikan aturan ini kepada masyarakat,” tekan Arist seraya mengakui jika Organisasi Sosial dan masyarakat juga memberi kontribusi dalam kegagalan tersebut. “Olehnya, perlu sebuah kerja konkrit yang lebih keras untuk melindungi anak-anak kita. Kami Komnas Anak akan mengambil peran yang telah kami jalankan selama ini dengan merumuskan program yang lebih sistemik, bukan hanya sebagai ‘pemadam kebakaran’ tapi pada sosialisasi akan UU Perlindungan Anak dan kewajiban untuk anak dilindungi pada tahun 2012 mendatang,” tandas Arist lagi.

Di tempat yang sama, Wahyu Dhyatmika dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) DKI Jakarta mengapresiasi catatan akhir tahun yang dirilis oleh Komnas PA, namun Ia mengharapkan lebih menegaskan kerja-kerjanya dengan program yang lebih sistimatis dan tepat sasaran untuk perlindungan anak, bukan hanya sebagai ‘pemadam kebakaran’ saat kasus dilaporkan tapi lebih pada deteksi dini dan pencegahan berupa sosialisasi UU Perlindungan Anak hingga ke level grass root.

Samsul Ridwan selaku Sekjend mengapresiasi wacana yang berkembang seputar penyusunan data base angka kekerasan terhadap anak agar bisa dijadikan patokan data base untuk seluruh kalangan dengan melibatkan seluruh stake holder yang bergerak di bidang perlindungan anak. (pepin)

MANFAAT BERMAIN BAGI ANAK: BUKAN HANYA SEKEDAR HIBURAN (Part 1)

Dunia anak adalah bermain. Anda pasti sudah tahu maksud dari kalimat tadi. Tapi tahukah Anda jika banyak terdapat manfaat dibalik kesenangan anak dalam bermain?  Ya, bermain bukan hanya sekedar menjadi hiburan bagi si kecil.  Bermain juga merupakan faktor amat penting untuk memaksimalkan pertumbuhan fisik dan perkembangan mental anak. Disamping itu, bermain juga dapat menumbuhkan daya kreativitas dan imaginasi si kecil. Sebagai orang tua, Anda pun dapat memetik banyak manfaat dengan ikut bermain bersama anak.

Di atas kasur, setiap kali mama menggoyang-goyangkan kepala di depan wajahnya, Safira (10 bulan) selalu tertawa kegirangan.  Dia senang melihat rambut panjang mamanya berkibar-kibar dan menggelitik wajah mungilnya. Sementara kakaknya, Zahra (2) yang duduk tidak jauh darinya, terlihat sibuk bicara dengan boneka ‘Teddy Bear’ nya yang berbulu lembut dengan bahasa yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.

Di saat yang sama, di teras belakang, trio Pandawa cilik: Yudhistira (7), Bima (5), dan Arjuna (3) sibuk mengaduk-aduk timbunan pasir yang sebenarnya memang disiapkan papa untuk merenovasi rumah. Ada beberapa cetakan aneka bentuk di sekitar area tersebut yang sengaja diambil dan dikumpulkan dari dapur oleh mereka.Mulai dari mug melamin ukuran sedang sampai cetakan agar-agar model kura-kura, beruang, dan mobil lengkap dengan sendok pasir dan seember kecil air untuk menyiram pasir agar bisa menjadi lebih bersifat pekat. Di sisi sekitar timbunan sudah terlihat beberapa hasil berupa pasir padat yang sudah tercetak dalam berbagai bentuk. Alih-alih melarang mereka, papa justru terlihat ikut sibuk mencetak pasir dan main bersama-sama.

Semua aktivitas yang dilakukan oleh anak-anak tersebut adalah bermain. Pada dasarnya semua anak senang bermain.  Mereka membutuhkannya, karena bermain menjadi salah satu kunci kesehatan emosi anak.

Tidak dapat dipungkiri, masih banyak orang tua yang meremehkan kegiatan bermain anak. Lebih baik belajar daripada bermain.  Pendapat macam ini tentu masih sering kita dengar. Padahal, bermain merupakan aktivitas alami anak yang dapat memuaskan rasa ingin tahu serta belajar mengenal diri sendiri dan dunia luar, dengan aktif, menyenangkan, dan aman.  Saat bermain, si kecil merasa menjadi pembuat kebijakan dan penentu keputusan bagi dunianya sendiri.

Memang, ada kesan kalau bermain itu hanya sekedar hiburan yang menyenangkan belaka. Namun penelitian membuktikan bahwa anak yang cukup mendapatkesempatan bermain cenderung akan lebih mampu mengatasi stres, mengendalikan emosi, mengekspresikan perasaannya, dan lebih terbentuk secara intelektual, fisik, dan sosial dibandingkan anak yang kurang mendapatkan kesempatan yang sama.

Beberapa manfaat dan keuntungan untuk Anda yang bisa dipetik dari aktivitas bermain dengan anak antara lain adalah:

  • Membuat Anda bisa melihat ke dalam pikiran si kecil:minat anak akan suatu hal dapat tercermin dari jenis permainan yang disukainya, dan Anda baru mengetahuinya setelah terlibat langsung bermain dengan mereka.
  • Mengurangi tekanan (stres):kreativitas dan imaginasi Anda ketika bermain dengan si kecil akan membawa Anda keluar dari rutinitas dunia dan masuk ke dalam kesenangan. Anda akan merasa muda dan lepas dari beban kehidupan sehari-hari.
  • Memberi Anda alat komunikasi yang efektif untuk berinteraksi dengan si kecil:dengan bermain “peran”, anda bisa lebih efektif berkomunikasi. Misal, dengan menirukan karakter suara binatang tertentu Anda bisa menyampaikan pesan atau nasehat kepada si kecil secara lebih efektif. Dengan menggunakan karakter suara macan yang mengerang, anda bisa  “berperan” sebagai tokoh jahat yang mengancam anak anda (tokoh baik) yang tidak mau segera tidur.
  • Membuat Anda belajar sesuatu yang baru:anda baru sadar kalau si kancil (tokoh fabel) kerap berbuat licik dibanding cerdik.  Anda baru sadar kalau nenek sihir selalu digambarkan terbang dengan sapunya dan kerap kali memberikan permen yang akan membuat tidur anak yang memakannya.  Dan Anda baru menyadari semua itu setelah Anda melakukan aktivitas bermain dengan anak.
  • Mengakrabkan Anda dengan si kecil:menemani anak Anda bermain adalah cara yang paling baik untuk bisa lebih dekat secara emosi dengan mereka. Dengan bermain bersama, secara otomatis akan membuat Anda dan si kecil saling berbagi kesenangan satu sama lain.

Sebagai orang tua, Anda pun dapat membantu anak menemukan permainan terbaik mereka sesuai dengan tahapan usianya.  Berikut beberapa tahapan usia anak dikaitkan dengan jenis permainan yang sebaiknya Anda ketahui:

  • Di bawah 18 bulan

Pada tahapan awal, tidak banyak alternatif permainan yang bisa Anda pilih. Kalau tidak tidur atau makan, anak pada tahap usia ini pasti bermain. Permainan yang bisa dipilih pun  masih sederhana, karena si kecil belum mengerti bahasa, belum bisa mengkoordinasikan ototnya, dan belum mampu melakukan kreativitas ataupun berimaginasi.  Permainan yang dilakukan biasanya sebatas memandangi bola-bola yang berputar di atas boksnya dengan mengeluarkan bunyi-bunyian (musik) yang menarik.

Sekitar usia tiga bulan, kontrol otot mulai berfungsi dan si kecil sudah mulai bisa bermain. Mereka sudah bisa melempar mainan keluar dari boks dan mencium-cium jari kaki sendiri. Si kecil pun sudah mulai bisa merasakan manfaat dari bermain sehingga terkadang bisa mengalihkan perhatiannya dari perut kosong maupun popok basah.  Permainan mulai mengajarkan hal baru berupa pengetahuan tentang diri mereka sendiri (merasakan jari kaki sendiri ketika dicium dan digigit), serta membuka pengalaman pancaindra secara lebih peka (bunyi musik yang terdengar menjadi semakin menarik; melihat ekspresi wajahnya sendiri di cermin yang dihadapkan di sepan wajahnya).

Pada usia 4 – 6 bulan, si kecil sudah mulai bisa melibatkan orang lain dalam permainannya: Anda, atau pun saudaranya.  Sekarang ia tahu bahwa aksinya akan menghasilkan reaksi dari orang-orang di sekitarnya.  Interaksi dengan orang di sekeliling ini akan dapat membantu si kecil mengurangi kekhawatirannya terpisah dari komunitasnya: Anda, atau pun saudaranya,  dan ditinggal bermain sendiri.

Pada usia 6 – 18 bulan, kemampuan bermain si kecil akan lebih bervariasi lagi karena fungsi otaknya sudah lebih kompleks dari sebelumnya. Daftar lagu-lagu yang bisa Anda  nyanyikan bersamanya sudah boleh ditambahbeberapa lagi. Hampir semua interaksi Anda bersamanya bisa menjadi permainan. Mulai dari menggelindingkan bola, meniru suara-suara binatang, menyanyi, berbicara dengan bonekanya, dan sebagainya.

  •  18 bulan – 3 tahun

Pada usia ini si kecil sudah mulai belajar berjalan. Pikiran dan perasaannya pun mulai berkembang. Namun demikian beberapa perasaan seperti marah, kesal, senang, dan lainnya masih sulit untuk dinyatakan dan diungkapkan dengan benar sesuai dengan keinginannya.  Lakukanlah permainan “peran” dengan menciptakan karakter sebagai tokoh baik atupun jahat sebagai sarana untuk mengungkapkan perasaan si kecil.

“Aum! Aku adalah si belang. Aku akan menggigit mama karena mama nakal.”  Si kecil mencoba menunjukkan perasaan marahnya kepada mamanya yang baru saja melarang dirinya makan permen.“Kenapa dedek mau gigit mama?” Anda sudah bisa menimpali dengan pertanyaan supaya si kecil dapat mengungkapkan alasannya: “Karena dedek ngga boleh makan permen.”

Dengan berperan sebagai macan, si kecil bisa menunjukkan emosinya yang marah tanpa ada akibat yang bisa terjadi kalau dilakukan dalam keadaan sesungguhnya. Anak Anda dapat melepaskan perasaan yang ingin diungkapkan tanpa ada resiko apa pun.  Kalau saja ia benar-benar marah kepada orang lain, mungkin ia akan mendapatkan balasan.

Permainan ini juga akan memberi anak perasaan sensasi hebat karena ia dapat mengontrol dan mendapatkan apa yang diharapkannya dengan jalan memainkan daya imaginasinya.  Dengan berpartisipasi  dan menjadi bagian dari permainan “peran” ini Anda pun bisa membuka jalur komunikasi dua arah dengan si kecil.

Anda juga bisa menggunakan mainan sebagai alat untuk mengatasi si kecil yang sulit.  Misalnya, apabila anak Anda susah dimandikan, Anda dapat menggunakan bebek-bebekan untuk membujuknya mandi.  “Nah, sekarang si Kwek-kwek mau mandi dulu supaya bulunya bersih. Tapi si Kwek-kwek maunya mandi sama dedek. Yuk, kita mandi sama-sama…”

Mainan beroda (mobil-mobilan) atau pun tunggangan (kuda-kudaan) akan menjadi mainan favorit yang akan disukai anak yang baru belajar berjalan.  Kemampuan menggerakkan sesuatu muncul pada usia ini, hingga beberapa permainan yang melibatkan gerakan bisa menjadi sensasi bagi si kecil.

Ada satu macam permainan lagi yang bisa merangsang pertumbuhan otak si kecil.  Anak usia tiga tahun akan bisa mengasah kemampuan melalui permainan puzzle (menyatukan kembali potongan-potongan gambar) atau pun permainan menyusun balok hingga menjadi istana satu dimensi.  Mereka akan merasakan satu sensasi kepuasan tersendiri ketika  melihat potongan-potongan puzzle mulai terlihat sebagai satuan gambar. Anda bisa melibatkan diri dengan cara ikut mencarikan keping demi keping yang sekiranya menyulitkan si kecil. Tugas Anda hanya sampai dengan menemukan potongan, sementara biarkan mereka sendiri yang menyusun ke posisinya di dalam wadah.  Pancing imaginasinya, misalnya dengan mengatakan: “Potongan ini tempatnya di bawah mata si bebek. Coba cari dulu matanya sudah ada di situ (wadah puzzle) atau belum?”  Permainan ini juga membangun kemampuan visual, motorik, konsentrasi, ketekunan, dan kesabaran yang kesemuanya penting untuk menghadapi masa sekolah kelak.

  • Usia 3 – 6 tahun

Pada tahap usia 3 – 6 tahun, si kecil membutuhkan penyegaran dalam skala area bermainnya.  Mereka sudah mulai memerlukan interaksi dengan teman-teman sebayanya.  Semakin sering si kecil bermain di dunia luar, kesempatannya untuk berinteraksi sosial pun meningkat. Si kecil akan mulai merasakan betapa menyenangkannya bermain di dalam kelompok.  Mereka akan merasa senang mempunyai teman,senang menjadi teman, serta senang berbagi peran dengan teman.

Permainan petak umpet dan sepak bola, misalnya, bukan hanya memberi kesenangan, tapi juga mengajarkan bagaimana menjadi bagian dari sebuah kelompok. Permainan macam ini dapat mengajarkan si kecil akan pentingnya saling menghargai kepada teman.  Bagaimana menyeimbangkan antara keinginan pribadinya dengan keinginan orang lain. Bagaimana cara bekerja sama dan menggabungkan kekuatan untuk mencapai tujuan bersama.  Bagaimana cara menghargai teman, berbagi peran dan menghormati peran teman.

Permainan fantasi sangat dianjurkan pada tahap usia ini karena dapat membantu anak untuk mengerti dan merasakan potensi kekuatannya sendiri.  Ketika masih bayi, si kecil dijaga di dalam lingkungan keluarga. Beberapa tahun kemudian si kecil tumbuh dan besar di lingkungan yang penuh persaingan dan hidup berkelompok dengan teman sebayanya.  Hal ini tentu sangat bisa mengganggu stabilitas dan ketenangan di dalam diri si kecil.  Permainan fantasi akan menimbulkan impian akan sebuah karakter yang disukainya yang dapat memberinya kekuatan atau rasa aman.  “Dedek kanSuperman, jadi nggak boleh nangis kalau diledekin teman, ya.”

Si kecil pun mulai mengerti arti sesungguhnya dari diri sendiri. Mereka akan bermain “peran” untuk mencoba pengalaman baru sekaligus mencocokkan peran dengan harapan sosial yang berlaku. “Awas, polisi datang. Kamu (temannya) aku tangkap karena bolos sekolah… Makanya, kamu jangan bolos lagi.”

Bermain gelembung terbang menjadi contoh permainan individu yang mereka sukai karena bisa meciptakan imajinasi.  Si kecil akan senang melihat kilauan gelembung sabun yang melayang di udara, lalu pecah secara tiba-tiba.  Ada sensasi kepuasan tersendiri yang timbul apabila gelembung yang ditiupnya bisa bertahan lama di udara dan tidak pecah-pecah.

  •  Usia 6 – 9 tahun

Ini adalah fase usia sekolah. Begitu anak mulai bersekolah, terdapat dua kebutuhan utama yang harus dipenuhi, yakni bermain dan belajar. Si kecil harus sudah mulai dibiasakan untuk membagi waktu, kapan waktunya belajar dan kapan boleh bermain. Yang harus diperhatikan oleh Anda, pastikan bahwa si kecil tetap memiliki waktu ‘luang’ untuk memenuhi kesenangannya bermain di samping kewajibannya mengerjakan tugas-tugas sekolah. Hal ini penting agar keseimbangan kesegaran antara pikiran dan tubuh si kecil tetap terjaga.

Permainan kelompok empat orang yang menggunakan biji dan dadu, seperti: ular tangga, halma, ludo ataupun monopoli; serta permainan kelompok dua orang, seperti catur dan othelo sangat disukai oleh anak-anak pada fase usia ini. Mereka akan mulai merasakan serunya berkompetisi dengan teman-temannya hingga kemudian meraih kemenangan. Mereka akan mendapatkan sensasi berupa kepuasan tersendiri ketika berhasil unggul dari teman-teman di dalam kelompoknya. Contoh permainan lainnya yang mengandung unsur kompetisi antara lain adalah: congklak, bola bekel, karambol ataupun kartu kwartet

Sosialisasi merupakan hal penting yang harus diperhatikan oleh Anda.  Di usia sekolah, si kecil akan lebih banyak berinteraksi dengan teman sebayanya dalam bermain.  Mereka mendapat kegembiraan bermain bersama teman-temannya. Olahraga di halaman yang membutuhkan minimal dua orang pemain, seperti: sepakbola, kasti, dan lain-lain, sangat digemari si kecil usia sekolah.  Koordinasi motorik dan kemampuan intelektualnya akan terus meningkat tajam hingga membuatnya bisa mengerti aturan-aturan yang rumit dalam permainan yang dilakukannya.

Tugas berat yang akan Anda hadapi selaku orang tua adalah menghadapi derasnya pertanyaan-pertanyaan si kecil seputar permainan yang dilakukannya. “Pa, offside itu apa?” “Kenapa kuda (catur) nggak boleh jalan lurus?”  “Pemain ‘disuap’ itu apa, sih? Memang nggak bisa makan sendiri.” Dan Anda harus mampu menjawab semua pertanyaan-pertanyaan mereka dengan bijak dan bersahabat.  Jangan sekali-kali Anda asal menjawab.  Akibatnya akan sangat fatal, karena jawaban Anda akan langsung disimpan di dalam memori otaknya sebagai informasi.Mereka akan menggunakan jawaban Anda sebagai referensi untuk di-share kepada teman-teman di dalam kelompok bermainnya. Bisa dibayangkan jika ternyata temannya itu mempunyai jawaban yang lebih benar, sementara si kecil Anda sudah terlanjur mempertahankan pendapatnya yang salah yang diperolehnya dari Anda. Apabila Anda tidak/belum tahu jawabannya, lebih baik menunda secara bijak: “Papa nggaktau, sayang, besok kita tanya sama Om, ya…”

Disamping bemain, si kecil pada fase usia ini biasanya mempunyai minat khusus pada suatu bidang tertentu, seperti: ketrampilan sulap, membaca komik, mengkoleksi kartu bergambar pemain sepakbola, dan lain-lain. Anda pun tidak boleh mengabaikan minat ataupun hobby baru si kecil tersebut.

  • Usia 9 – 12 tahun

Si kecil sekarang sudah besar.  Pikirannya sudah mulai dipenuhi hal-hal abstrak serta hubungan sebab akibat yang memungkinkannya untuk menikmati beberapa bentuk permainan baru yang lebih kreatif.  Membuat puisi, percobaan ilmiah, softwarekomputer, merupakan beberapa contoh bentuk permainan yang akan diminatinya di fase usia ini.  Permainan mengisi TTS juga disenangi  anak usia pra-remaja karena memerlukan kemampuan berfikir yang cukup rumit.

Anak pada usia ini juga lebih humoris, senang menggoda, serta sudah mulai mencoba menarik perhatian teman lawan jenisnya.  Dibanding bermain ”peran” menjadi Superman, mereka lebih suka bergayutan pada pintu bis atau angkot.  Dibanding bermain boneka Barbie, mereka lebih suka mematut-matut dirinya sendiri di depan cermin.

Karena saat ini merupakan fase pertumbuhan, jangan sekali-kali Anda mencegah dan melarangnya bermain bersama teman-teman sebayanya.  Anda hanya perlu menempelnya lebih ketat dan menjadi “teman” berbagi cerita dan pengalaman.  Kenali semua teman-temannya, cari tahu alamat dan nomor teleponnya, serta lakukan pendekatan khusus dengan orang tua dari teman-teman mereka.  Atau, agar lebih aman dan mempermudah pengawasan, buatlah rumah Anda menjadi persinggahan atau base camp favorit setelah anak Anda bersama teman-temannya pulang dari sekolah.

Bermain, apa pun bentuk dan jenisnya, merupakan bagian vital dari pertumbuhan fisik dan mental si kecil.  Bermain akan membuat mereka merasakan kegembiraan hidup dan menjaga kesejahteraan jiwanya.  Dengan melibatkan diri Anda di dalam permainan bersama si kecil, anda pun bisa mendapatkan banyak keuntungan lain di samping kegembiraan.  Yang perlu Anda ingat, tidak pernah ada batasan usia bagi seseorang untuk bermain.

Jadi, selamat bermain! Jangan Lupa, nantikan bagian keduanya minggu depan yaaa…..

(PAPAKOKO – disarikan dari berbagai sumber)

MENUMBUHKAN RASA PERCAYA DIRI ANAK MELALUI KOMUNIKASI DUA ARAH

Susah-susah mudah untuk dapat berkomunikasi efektif dengan si kecil. Perlu lebih dari sekedar kata-kata dan kalimat-kalimat untuk bisa membuat anak merasa nyaman berkomunikasi dengan Anda. Beberapa cara sederhana yang dapat Anda gunakan  untuk menumbuhkan  rasa percaya diri si kecil sekaligus membuat mereka lebih menghargai diri sendiri dan lawan bicara adalah dengan memberi contoh menggunakan kalimat-kalimat pendek yang sederhana namun terdengar menyenangkan dan tidak bertele-tele.

Beberapa contoh praktis yang dapat anda lakukan saat berkomunikasi dengan anak antara lain adalah:

  • Berbicaralah dengan nada suara yang menyenangkan dan bersahabat, bukan dengan nada marah.
  • Jaga intonasi nada bicara, jangan berteriak ataupun terkesan menekan.
  • Luangkan waktu yang cukup untuk berkomunikasi sungguh-sungguh, jangan bicara terburu-buru.
  • Fokus dan dengarkan si kecil dengan serius saat mereka sedang berbicara, jangan terganggu urusan lain.
  • Sesuaikan ekspresi wajah dengan kata-kata dan emosi yang hendak Anda sampaikan, jangan kaku.
  • Ciptakan kondisi yang dapat menonjolkan rasa cinta dan hormat Anda pada anak dengan menyesuaikan pemilihan kata dengan tindakan Anda.
  • Sertakan interaksi fisik dengan si kecil sesering mungkin dengan memberi sentuhan, belaian, pelukan, ataupun usapan.
  • Royal untuk menggunakan kata ‘sayang,’ ‘cinta,’ ‘manis,’ ‘anak cantik,’‘anak ganteng,’ dan kata-kata positif lainnya untuk meningkatkan percaya diri si kecil.
  • Sebaliknya, hindarkan kata-kata negatif seperti ‘bodoh’, ‘nakal’, ‘bandel,’ dan sebagainya untuk menghindarkan si kecil dari rasa rendah diri.
  • Jadikan tanggung jawab Anda selaku orang tua sebagai cermin atas kesediaan dan kesiapan Anda untuk mengambil alih kendali bila diperlukan.
  • Jangan segan dan gengsi untuk minta maaf bila sudah membuat si kecil kecewa.
  • Perbanyak senyum dibanding cemberut dan menekuk wajah saat berinteraksi dengan anak.

Sementara beberapa contoh kalimat sederhana yang dapat anda pilih dan gunakan secara berulang-ulang sesering mungkin saat berinteraksi dengan anak antara lain adalah:

  • “Tolong”

Kata ini wajib disertakan setiap kali anda meminta bantuan pada seseorang, termasuk pada si kecil.  Tujuannya adalah agar si kecil mengerti lebih dini akan pentingnya sikap saling menghargai baik pada diri sendiri maupun orang lain.  Jangan lupa untuk menutupnya dengan mengatakan “Terima kasih” bila sudah dibantu.

  •  “Terima kasih”

Kata ini mencerminkan bahwa Anda menghargai usaha si kecil dalam membantu Anda atau orang lain. Jangan lupa katakan, “Terima kasih, Sayang, kamu sudah merapihkan tempat tidurmu sendiri setelah bangun tidur.”  “Terima kasih, ya, kamu sudah mau bantu mama/papa.”

Kata “terima kasih” akan membuat anak merasa tersanjung dan tidak merasa sedang mengerjakan sesuatu pekerjaan yang sia-sia.

  •  Bagaimana sekolahmu hari ini

Kalimat ini mengandung pengertian bahwa Anda memperhatikan aktivitas yang dilakukan si kecil.  Mereka akan bersikap lebih komunikatif dan mau bercerita tentang pengalamannya karena merasa diperhatikan oleh Anda.  Kalimat ini bisa Anda gunakan untuk membuka pembicaraan dengan si kecil dan mencairkan suasana.

  •  “Coba ceritakan lebih lengkap lagi”

Kalimat ini mengandung pengertian bahwa Anda mendengarkan dan tertarik pada topik yang sedang dibicarakan si kecil.  Hal ini akan menyemangati si kecil untuk bersikap lebih komunikatif dan mau bercerita lebih banyak lagi tanpa takut dikritik ataupun dicela dan digurui, tiga hal yang seringkali mengecilkan hati anak untuk melanjutkan pembicaraannya.

  • “Kamu pasti bisa melakukannya”

Kalimat ini dapat meningkatkan rasa percaya diri si kecil, sekaligus menjadi motivasi mereka setiap kali akan mengerjakan sesuatu pekerjaan walaupun tanpa bantuan Anda. Kalimat ini sekaligus juga menjadi bentuk pengakuan anda terhadap bertambahnya kemampuan anaksejalan dengan bertambahnya usia mereka.

Dukungan Anda tentu saja akan memberikan arti yang berbeda antara perasaan menyerah dan semangat untuk melakukan tugas-tugas baru yang lain dari yang biasa dikerjakannya.

  •  “Apa yang bisa mama/papa bantu?”

Kalimat ini menunjukkan pada anak bahwa Anda tidak menutup diri dan bersedia membantunya menyelesaikan tugas yang sulit untuk diselesaikannya sendiri. Dalam hal menyelesaikan tugas dari sekolah seperti PR membaca, menulis, ataupun berhitung Anda dapat menggunakan kalimat ini sebagai pengantar dalam menawarkan bantuan kepadanya.Usahakan untuk memilah dan memutuskan tugas-tugas mana yang bisa dilakukannya sendiri dan mana yang perlu Anda bantu. Tetap hormati sikapnya ketika si kecil menolak atau tidak ingin dibantu dalam mengerjakan proses. Lakukan koreksi setelah pekerjaan mereka selesai dan sebutkan pembenarannya tanpa mengkritik dan mencela.

  •  “Ayo kita lakukan sama-sama”

Kalimat ini bertujuan untuk mengajarkan arti kerja sama pada anak.  Si kecil akan  tahu bahwa kerja sama dapat mempermudah sekaligus mempercepat pekerjaan.  “Yuk kita bikin kue bareng-bareng supaya bisa matang sebelum teman-teman kamu datang.”  “Ayo bantu papa membetulkan sepeda kamu agar bisa dipakai hari Minggu besok.”

Pekerjaan rumah tangga dan tugas lain yang dilakukan bersama-sama dapat menjadi kegiatan menyenangkan yang akan lebih mengakrabkan antara Anda dengan si kecil.  Kebersamaan ini juga dapat memperkaya kehidupan anak serta menciptakan kenangan masa kecil yang mendalam dan berkesan.

  •  “Kerja yang bagus”

Kalimat  ini wajib diucapkan setiap kali si kecil berhasil menyelesaikan tugas-tugasnya, apapun kualitas  hasilnya.  Tujuannya adalah untuk menghargai upaya si kecil dan untuk menumbuhkan rasa percaya diri atas prestasi yang sudah dibuatnya.

Bila mungkin, tambahkan pujian lain yang jujur dan khusus, seperti “Good job! Ini baru anak mama/papa yang pintar dan hebat.”Pusatkan pujian Anda pada usaha dan kemajuan yang sudah dilakukan si kecil. Tujuannya adalah untuk membantunya mengetahui potensi atas kelebihan-kelebihan yang dimilikinya.

  • “Sekarang sudah waktunya”

Untuk menjalani rutinitas hariannya, si kecil perlu dibuatkan jadwal tidak tertulis berupa kebiasaan yang bisa menjadi acuannya untuk menjalani rutinitas hari-hari selanjutnya. Kalimat-kalimatseperti, “Filmnya (TV) sudah selesai, sekarang sudah waktunya mandi sore.” “Langitnya sudah gelap, sekarang waktunya pulang.”  “Alarm-nyasudah bunyi, sekarang sudah waktunya bangun dan siap-siap pergi sekolah.”  “Hansipnya sudah mukul kentongan, sekarang sudah waktunya anak-anak tidur.”  Dan kalimat-kalimat serupa lainnya bisa digunakan sebagai ukuran waktu standar bagi si kecil.

Sebagai orangtua, Anda boleh menetapkan jadwal kegiatan yang sesuai sebagai struktur standar dalam kehidupan sehari-hari.  Anda lebih bisa membedakan ukuran perasaan aman dan tidak aman dibandingkan si kecil.  Misalnya, karena langit sudah gelap sudah waktunya si kecil pulang karena di dalam rumah akan jauh lebih aman dibandingkan di luar rumah Jangan lupakan pentingnya waktu tidur dan makan yang teratur bagi anak-anak.

  •  “Mama/papa sayang kamu”

Sering-seringlah mengucapkan kalimat ini di sela-sela interaksi sehari-hari dengan si kecil. Pada prinsipnya, setiap orang memerlukan cinta, kasih sayang, pengakuan,serta perasaan ingin diterima dan dimiliki oleh orang-orang yang ada di sekitarnya.

Kalimat ini merupakan penegasan atas perasaan Anda sebagai orang tua terhadap keberadaan si kecil.  Jangan lupa pula melengkapinya dengan sentuhan fisik berupa pelukan dan belaian yang akan membuat si kecil merasa nyaman ketika berada di samping Anda.

 

(PAPAKOKO – disarikan dari berbagai sumber)

Pentingkah Pendidikan Seks untuk Anak?

Di Indonesia, banyak orangtua yang beranggapan bahwa membicarakan seks pada anak-anak adalah hal yang tabu. Namun orangtua sebaiknya tidak memandang pendidikan seks dari sisi negatifnya. Dengan pendekatan yang tepat, pendidikan seks justru berguna untuk mencegah penyakit dan gaya hidup anak.

Dilihat dari sisi positif, pendidikan seks bagi anak-anak akan sangat berguna bagi kehidupan mereka kelak. “Pendidikan seks sebaiknya diberikan sejak mereka mereka mulai menstruasi atau sejak mereka mimpi basah,” ungkap dr Boyke Dian Nugraha, kepada Kompas Female, dalam bincang-bincang “Sexual Wellbeing Global” Durex di Plaza Senayan Arcadia, Jakarta Selatan, Rabu (30/11/2011).

Pendidikan seks sebaiknya dimulai dari orangtua terlebih dulu. Langkah edukasi dari orangtua ini bisa membuat anak menjadi lebih berhati-hati dengan gaya hidup mereka. Jika mereka sudah mengerti tentang bahaya penyakit menular seksual, mereka pun akan sadar mengenai pentingnya menjaga fungsi organ intim mereka.

“Salah jika ada yang berpendapat kalau edukasi seks ini justru malah akan mengajarkan mereka untuk seks bebas, ini tergantung pendekatan orangtua kepada anak-anaknya. Jika mereka tahu bahayanya, maka mereka akan berhati-hati. Karena di sekolah belum ada kurikulum khusus tentang seks,” tambahnya.

Pendidikan seks dalam keluarga tidak harus dilakukan dengan langkah yang formal, tapi bisa juga dilakukan saat santai ataupun sembari menonton televisi. Dengan metode santai ini, anak-anak tidak akan merasa terpaksa untuk mendengarkan “ceramah” orangtuanya tentang seks.

Ditambahkan dr Boyke, pendidikan seks sejak usia remaja pada anak-anak akan membuat anak-anak di usia remaja terhindar dari penyakit HIV/AIDS, kehamilan tak diinginkan, penyakit kanker rahim, ataupun penyakit kelamin lainnya.

“Angka aborsi di Indonesia semakin meningkat per tahunnya, dan sekarang menginjak angka 2,3 juta. Dan angka pengidap AIDS semakin tinggi akibat adanya perilaku seks bebas yang tidak aman, sebanyak 80-87 persen,” tambahnya.

Sumber : kompas.com

Kegiatan Buka Puasa Bersama dengan Anak Nelayan Muara Angke

Bulan Suci Ramadhan disebut sebagai bulan terbaik, namun juga dinamakan pula sebagai Bulan Kepedulian dan Solidaritas atau Syahrul Muwaasaah. Di bulan Ramadhan, Allah SWT melipat gandakan pahala dan ganjaran bagi orang-orang yang bersedekah, sehingga Ramadhan menjadi momentum umat Islam untuk menunjukkan dan meningkatkan kepedulian dan solidaritas terhadap saudaranya yang tidak mampu, terlebih terhadap seperti anak-anak yatim dan para janda miskin.

suasana peserta acara

Dalam upaya memberikan keceriaan bulan Ramadhan dan menyambut hari raya Idul Fitri, Komnas Anak akan menyelenggarakan kegiatan buka puasa bersama dengan anak-anak nelayan Muara Angke yang selama ini menjadi dampingan Komnas Anak dan Lembaga Perlindungan & Pendidikan Anak (LPPA) Muara Angke.

Kegiatan yang telah dilaksanakan pada tanggal 20 Agustus 2011, merupakan bentuk kepedulian Komnas PA bekerjasama dengan para mitra untuk berupaya memenuhi hak anak di Muara Angke, khususnya juga kembali mengajak peran serta masyarakat untuk membantu hak anak di Indonesia. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Perlindungan dan Kepedulian untuk Anak Indonesia (PELUK Anak Indonesia).

Bertempat di Bantaran Kali Adem Kampung Nelayan Muara Angke, kegiatan ini diikuti oleh kurang lebih 500 anak nelayan yang sangat berantusias mengikuti acara dari awal hingga akhir. Diawali dengan pembacaan Alquran dan tari ondel-ondel oleh perwakilan anak dampingan LPPA Muara Angke.

Penampilan artis pendukung

Keikutsertaan artis yang ikut peduli dan bersedia membantu Komnas Anak menambah keceriaan acara. Beberapa yang ikut berpartisipasi adalah Ary (vokalis Band Stinky), Kawendra, Indra Brugman, Reza Herlambang, Ageng Kiwi dan kawan-kawan.

Acara makin meriah dengan aksi Kak Henny salah satu komisioner dari Komnas Anak yang sangat atraktif dan interaktif membawakan permainan dan bernyanyi bersama dengan anak-anak peserta acara.

Walau beberapa anak-anak peserta acara sedang berpuasa namun mereka tetap semangat mengikuti gerak dan nanyi yang dipandu oleh Kak Henny, apalagi ada hadiah yang menanti apabila mereka bisa menjawab pertanyaan dan ikut permainan. Acara diakhiri dengan pembangian konsumsi untuk buka puasa bersama dan paket bingkisan dari mitra-mitra Komnas Anak.

Acara buka puasa ini terselenggara atas kerjasama mitra dari Komnas yang ikut peduli terhadap masalah anak, khususnya anak-anak di Muara Angke. Untuk itu sebagai ucapan terima kasih diakhir sesi juga diberikan piagam penghargaan kepada mereka yang telah membantu, yaitu:

  • Corps Alumni Akademi Ilmu Pelayaran
  • Garuda Food
  • Yayasan Universitas Pelita harapan
  • Komunitas muslim PHE ONWJ
  • K.A. Production

 

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑