Menyambut Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2013Stop Iklan Promosi dan Sponsor Rokok demi Anak

“Remaja hari ini adalah calon pelanggan tetap hari esok karena mayoritas perokok memulai merokok ketika remaja..”

 (Laporan Peneliti Myron E. Johnson ke Wakil Presiden Riset dan Pengembangan Phillip Morris)

 

Jakarta, 29 Mei 2013 – Permasalahan merokok pada anak di Indonesia sudah mencapai taraf yang sangat memprihatinkan. 62,5% perokok mulai merokok saat remaja sebelum usianya mencapai 19 tahun (Riskesdas 2010). Sementara itu Global Youth Tobacco Survey menunjukkan peningkatan prevalensi perokok remaja usia 13-15 tahun yang selama kurun waktu 3 tahun naik lebih dari 1,5 kali lipat yaitu dari 12,6% tahun 2006 menjadi 20,3% tahun 2009: laki-laki dari 24% menjadi 41% dan perempuan dari 2,3% menjadi 3,5% pada periode sama.

Masih jelas dalam ingatan kita semua tahun 2010 media dalam dan luar negeri heboh membicarakan balita usia 18 bulan yang merokok hingga 40 batang per hari. Ini bukan perkara biasa atau hal yang lucu, para balita ini adalah korban dari eksploitasi zat adiktif yang ”legal” yaitu rokok. Namun akses mereka terhadap rokok sangat mudah, karena harganya murah,dapat dibeli dimana saja dan iklannya banyak bahkan hingga ke jalan-jalan kecil.

Agresifitas pemasaran yang dilakukan industri rokok melalui berbagai iklan, promosi dan sponsorship menciptakan image sekan-akan rokok adalah “barang normal” yang dapat dikonsumsi siapa saja. Faktanya, rokok adalah zat adiktif dan mengandung 4.000 racun berbahaya yang dapat mengganggu hidup dan tumbuh kembang anak seperti perkembangan paru-paru lambat, inteligensi kurang, infeksi saluran nafas, infeksi telinga, asma dan sebagainya. Dan yang paling berbahaya adalah kecanduan dan terjerat zat adiktif, seperti halnya para balita tesebut.

Data terakhir Komnas Anak (2013) dari hasil survey terhadap 1000 anak di 10 kota besar di Indonesia menujukan 92% anak melihat iklan rokok di TV, 50% spanduk, 38% toko/warung, serta lainnya dari koran, majalah, konser musik, olahraga dan radio. Pantaslah Komnas Perlindungan Anak prihatin dan khawatir karena seringnya anak melihat iklan rokok dari berbagai media

Karena itu, Komnas Perlindungan Anak mendesak agar Pemerintah dengan tegas melarang Iklan, Promosi, dan Sponsor rokok. Hal tersebut jelas berdampak untuk menginisiasi anak merokok. Sudah semestinya seluruh pihak ikut berperan aktif dalam melindungi anak-anak dari dampak bahaya tembakau Perlindungan anak-anak dari bahaya tembakau termasuk di dalamnya segala hal yang mendorong anak untuk menjadi perokok mutlak dilakukan karena merekalah yang akan menjadi generasi penerus bangsa ini.

Untuk informasi selanjutnya, silakan hubungi:

Indah Permata  : (021) 841-6159

Iklan