Jakarta – Satu lagi, anak Indonesia yang menjadi korban kekerasan seksual. RI (11), bocah pemulung dari Pulo Gebang, Jakarta Timur harus menghembuskan nafas terakhir di RSUP Persahabatan, Jakarta Timur setelah koma akibat luka parah dari kekerasan yang dialaminya.

Bocah ini diduga mendapatkan kekerasan seksual dan kemaluannya mengalami luka cukup parah. Alat Kelamin korban mengalami luka parah yang diduga dilakukan pelaku berulang ulang.

Namun, sayangnya hingga dia harus meninggalkan dunia ini, pelaku tindak kekerasan ini belum diketahui.

Untuk itu, harus ada gerakan solidaritas berupa dukungan terhadap keluarga korban dalam upayanya untuk mencari keadilan agar dapat menjerat pelaku.

Gerakan moral ini sekaligus juga mendesak kepada aparat penegak hukum untuk menseriusi laporan yang dibuat oleh Orang Tua korban dan menghukum pelaku seberat-beratnya untuk menimbulkan efek jera agar tidak ada lagi RI yang lain.

Aksi Solidaritas ini juga menuntut Pemerintah untuk memberikan jaminan perlindungan hukum bagi anak-anak korban kekerasan seksual. Dimana, Pemerintah harus segera melakukan amandemen UU Perlindungan Anak mengenai ketentuaan pidana kekerasan seksual dari ancaman hukuman maksimal 15 tahun, menjadi 20 tahun minimal dan maksimal seumur hidup.

Untuk itu, Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mengajak seluruh kalangan dan komunitas yang peduli dengan kepentingan terbaik untuk anak, guna bersama-sama melakukan aksi solidaritas yang akan dipusatkan di Bundaran Hotel Indonesia kemudian Long March menuju Monas.

Mari kita bersama-sama membuat sebuah gerakan untuk menyuarakan adanya jaminan perlindungan hukum bagi anak korban kekerasan seksual dan amndemen UU PA agar menimbulkan efek jera bagi pelaku kekerasan seksual.

Iklan