Siaran Pers

Untuk Segera Diterbitkan

Jakarta, 14 Maret 2012 – Komisi Nasional Perlindungan Anak prihatin atas kondisi IL bocah 8 tahun dari Sukabumi, yang teradiksi rokok. Fenomena perokok anak seperti  gunung es, terlihat sedikit di puncak tapi di bagian dasarnya sangat banyak. Setelah AL dari Sumatera Selatan, kini IL dari Sukabumi hanyalah bagian puncak dari gunung es perokok anak.

Studi yang dilakukan Komnas Anak bersama UHAMKA tahun 2007, menunjukan 1,9% anak mulai merokok pada usia 4 tahun[1].  Sementara itu, data Susenas 1995, 2001, 2004 dan Riskesdas 2007 menunjukan prevalensi perokok anak usia 10- 14 tahun meningkat 6 kali lipat  sejak tahun 1995 hingga tahun 2007 (12 tahun). Pada tahun 1995  0,3 % (sekitar 71.000 orang) meningkat tajam menjadi 2% atau sekitar 426.000 pada tahun 2007[2].

Arist Merdeka Sirait, Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak menegaskan, “Fenomena perokok anak dan balita tidak cukup ditangani secara sektoral, tapi harus lintas sektor dan harus ada  political will dari Pemerintah untuk benar-benar melindungi anak-anak dari adiksi rokok. Karena itu, kehadiran regulasi pengendalian tembakau di Indonesia sudah sangat mendesak tidak bisa ditawar-tawar lagi”.

“Untuk kesekian kalinya, Pemerintah Indonesia diingatkan oleh kemunculan perokok anak, bahwa masalah kecanduan rokok di Indonesia sudah siaga ‘satu’, nyata dan  perlu segera penanganan, lanjut Arist Merdeka Sirait. Karena itu Komnas Anak mendesak agar RPP Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan yang merupakan mandate UU Kesehatan No. 36 tahun 2009, harus segera disahkan untuk melindungi hak kesehatan masyarakat. Atau generasi mendatang  akan menanggung beban penyakit dan ekonomi akibat teradiksi rokok.

Sudah saatnya pemerintah  dan para pembuat kebijakan di semua tingkat berdiri di sisi anak-anak Indonesia untuk  menghadapi agresifitas industri rokok dalam memasarkan produk adiksinya melalui iklan, promosi dan sponsor di semua media dan tempat. Jangan biarkan anak-anak dan para orang tua menghadapi sendiri “peperangan ini”, karena ini adalah tanggungjawab pemerintah.

Demikianlah press release ini disampaikan atas perhatian dan kerjasamanya, kami ucapkan terimakasih

 

Hormat kami

Atas nama Komisi Nasional Perlindungan Anak

Arist Merdeka Sirait               Samsul Ridwan

             Ketua Umum                         Sekretaris Jenderal


[1] Penelitian: Dampak “Keterpajanan Iklan Rokok dan kegiatan yang disponsori Industri Rokok terhadap Aspek Kognitif, Afektif dan Perilaku Merokok pada Remaja” dilakukan oleh Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Prof DR. Hamka, 2007.

[2]  Factsheet Konsumsi Rokok Meningkat, Rumah Tangga Termiskin Terjerat dan Alternatif Solusinya, Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi UI

 

Iklan