Pernah lihat anak suka memukul? Jangan langsung menuding tayangan kekerasan di televisi sebagai biangnya. Perilaku anak tak hanya dipengaruhi tayangan televisi.

Pola asuh yang diterapkan terhadap mereka juga vital. Apalagi bila orang tua menerapkan pola asuh yang membingungkan saat mereka sedang tumbuh kembang. Dengan begitu, akan terjadi inkonsistensi pada mereka.

Misalnya, seorang anak meminta sesuatu kepada orang tuanya di tempat umum dengan cara menangis keras sambil mengguling-gulingkan badan di tanah. Saat itu orang tuanya menuruti kemauan si kecil dengan dalih agar anak diam dan orang tua terhindar dari rasa malu di tempat umum.

Tapi, sesampai di rumah, saat tidak ada orang lain, anak dipukul. “Hal seperti itu membuat anak bingung,” kata dr Yunias Setiawati SpKJ, supervisor Day Care Psikiatri Anak RSU dr Soetomo Surabaya.

Selain menimbulkan kebingungan, anak bisa meniru perilaku negatif yang diterapkan orang tua tersebut. Tanpa sadar tindakan memukul yang dilakukan orang tua itu menciptakan pola asuh negatif pada anak.

Tentu, tayangan sarat kekerasan di TV juga berpengaruh. Karena itu, saat anak menonton televisi, orang tua dianjurkan mendampingi. Dengan begitu, anak mendapatkan tayangan yang sesuai dengan mereka dan terhindar dari tayangan yang tidak mendidik. Misalnya, tayangan yang melankolis atau menghadirkan contoh kekerasan.

“Tapi, orang tua juga tidak boleh overprotektif. Sebab, sifat tersebut bisa membuat anak tidak mampu berkembang maksimal,” ucap Yunias.

Sebaliknya, sifat permisif yang terlalu memanjakan dan menuruti kemauan anak juga perlu dihindari. Sebab, anak yang mendapatkan perlakukan seperti itu akan menjadi anak egois, kejam, dan tidak bisa berempati. “Jika anak memukul, jangan dibalas dengan memukul,” katanya.

Tindakan yang mestinya dilakukan orang tua adalah memberikan pengertian kepada anak bahwa tindakan itu menimbulkan rasa sakit pada orang lain. “Orang tua bisa bertanya kepada anak. Misalnya, kalau Adik dipukul sakit atau tidak? Adik mau dipukul apa tidak? Jika suka memukul, teman senang atau tidak?” terang Yunias.

Bila pertanyaan-pertanyaan sederhana itu dijawab anak, orang tua dapat leluasa mendengarkan isi hati si kecil, sekaligus memberi pengertian akibat tindakan yang dilakukan. Misalnya, bila anak menjawab dipukul sakit, orang tua bisa mengatakan, “Nah, karena itu, memukul orang lain tidak boleh dilakukan”.

Demikian pula bila mereka bilang tidak ingin dipukul, orang tua bisa mengatakan bahwa orang lain juga tidak ingin dipukul. “Saat anak memukul, jangan langsung dimarahi, apalagi membalas memukul. Lebih baik lakukan pendekatan seperti teman,” katanya.

Yunias juga mengingatkan orang tua agar jangan sampai mengeluarkan kata-kata tidak baik saat anak berlaku negatif. Misalnya, bilang si anak nakal, bodoh, atau kata sejenisnya. Sebab, perkataan itu akan terus terpatri dalam hati mereka. Dampaknya, saat besar anak potensial mengalami gangguan tingkah laku. “Julukan-julukan tidak baik itu akan membuat mereka minder,” ungkap Yunias.

Sumber : mutiara-hati.com

Iklan