Di Indonesia, banyak orangtua yang beranggapan bahwa membicarakan seks pada anak-anak adalah hal yang tabu. Namun orangtua sebaiknya tidak memandang pendidikan seks dari sisi negatifnya. Dengan pendekatan yang tepat, pendidikan seks justru berguna untuk mencegah penyakit dan gaya hidup anak.

Dilihat dari sisi positif, pendidikan seks bagi anak-anak akan sangat berguna bagi kehidupan mereka kelak. “Pendidikan seks sebaiknya diberikan sejak mereka mereka mulai menstruasi atau sejak mereka mimpi basah,” ungkap dr Boyke Dian Nugraha, kepada Kompas Female, dalam bincang-bincang “Sexual Wellbeing Global” Durex di Plaza Senayan Arcadia, Jakarta Selatan, Rabu (30/11/2011).

Pendidikan seks sebaiknya dimulai dari orangtua terlebih dulu. Langkah edukasi dari orangtua ini bisa membuat anak menjadi lebih berhati-hati dengan gaya hidup mereka. Jika mereka sudah mengerti tentang bahaya penyakit menular seksual, mereka pun akan sadar mengenai pentingnya menjaga fungsi organ intim mereka.

“Salah jika ada yang berpendapat kalau edukasi seks ini justru malah akan mengajarkan mereka untuk seks bebas, ini tergantung pendekatan orangtua kepada anak-anaknya. Jika mereka tahu bahayanya, maka mereka akan berhati-hati. Karena di sekolah belum ada kurikulum khusus tentang seks,” tambahnya.

Pendidikan seks dalam keluarga tidak harus dilakukan dengan langkah yang formal, tapi bisa juga dilakukan saat santai ataupun sembari menonton televisi. Dengan metode santai ini, anak-anak tidak akan merasa terpaksa untuk mendengarkan “ceramah” orangtuanya tentang seks.

Ditambahkan dr Boyke, pendidikan seks sejak usia remaja pada anak-anak akan membuat anak-anak di usia remaja terhindar dari penyakit HIV/AIDS, kehamilan tak diinginkan, penyakit kanker rahim, ataupun penyakit kelamin lainnya.

“Angka aborsi di Indonesia semakin meningkat per tahunnya, dan sekarang menginjak angka 2,3 juta. Dan angka pengidap AIDS semakin tinggi akibat adanya perilaku seks bebas yang tidak aman, sebanyak 80-87 persen,” tambahnya.

Sumber : kompas.com

Iklan