Jakarta, 23 September 2011 – Aula Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Jumat (21/9) dipenuhi almamater

biru, pasalnya Puluhan Mahasiswa peserta Study Excursie – Psikologi Universitas Brawijaya (UB) angkatan 2010 mendatangi kantor di TB Simatupang Nomor 33 Jakarta Timur itu.
Didampingi Dosen Psikologi, para Mahasiswa diterima oleh Arist Merdeka Sirait Ketua Umum Komnas PA , Samsul Ridwan Sekretaris Jendral  dan Henny Hermanoe Komisioner Bidang Keuangan .
Awalnya, peserta yang telah menunggu selama satu jam itu disegarkan kembali oleh aksi Henny dengan games-games yang seru hingga suasana sedikit mencair dan peserta siap mendengarkan materi yang disampaikan oleh Samsul Ridwan yang memaparkan sejarah terbentuk dan tujuan Komnas PA.
Menjawab pertanyaan seputar langkah yang bisa dilakukan oleh mahasiswa Psikologi untuk mengurai persoalan anak, Henny mengusulkan agar mahasiswa bisa membentuk komunitas belajar guna menampung anak-anak yang kurang mampu untuk bisa mendapatkan ilmu pengetahuan.
“Komunitas ini sangat berguna karena faktanya saat ini Pendidikan Gratis hanya Lip Service, pasalnya saat ini masih ada saja ada sekolah yang melakukan pungutan hingga orang tua tidak bisa menyekolahkan anaknya,” terang Henny.
Komnas PA menurut Henny, mencoba mengambil peran dalam pemenuhan hak-hak terhadap anak dengan berbagai cara yang salah satunya adalah membentuk komunitas-komunitas belajar guna menampung anak yang tidak mampu dan membina mereka.
“Langkah lain adalah kami juga mengadvokasi persoalan-persoalan yang dialami oleh anak, baik itu sebagai korban maupun anak itu sebagai pelaku kekerasan,” kata Henny.
Sekaitan kasus kekerasan terhadap anak, Menurut Samsul Ridwan, setiap harinya Divisi Hotline Service Komnas PA menrima 5-10 kasus. Pelaporan itu tidak dibebankan biaya alias gratis serta dijamin kerahasiaannya.
“Semua kalangan telah menjadi klien Komnas, dari Tukang Becak hingga Artis telah pernah menjadi Klien Komnas PA, namun semuanya tetap tidak dipungut bayaran karena ini merupakan kewajiaban Komnas PA,” tandas Samsul.
Sementara itu, Arist Merdeka sendiri menjawab persoalan peranan mahasiswa untuk menangani persoalan kekerasan terhadap anak, meminta mahasiswa untuk lebih memberikan tindakan nyata dan melaporkan setiap tindak kekerasan yang terjadi di lingkungan sekitar.
“Jika Anda smeua pulang kembali ke Malang, kami menunggu laporan kekerasan yang terjadi disekitar Anda. Meski Anda belum bisa mengadvokasi, namun pelaporan ini akan kami tindak lanjuti ke Lembaga Perlindungan Anak (LPA) terdekat,” ujar Arist dengan logat Batak yang kental.
Arist mengharapkan Mahasiswa justru menjadi motor penggerak utama untuk melakukan rekonsiliasi nasional untuk memulai kesepahaman anti kekerasan di antar kampus dan menjadi motivator dan contoh untuk orang dewasa agar tidak berkontribusi terjadi kekerasan terhadap anak.
“Faktanya, pelaku kekerasan umumnya orang dewasa dan orang dewasa juga berkontribusi untuk melakukan kekerasan, seperti kekerasan psikis. Untuk itu kita harus mulai rekonsiliasi Nasional untuk mengurangi kekerasan serta tidak berkontribusi terjadinya kekerasan,” tekan Arist.
Usai sesi tanya jawab, Para peserta ditemani oleh Samsul Ridwan kemudian mengunjungi ruangan Divisi yang ada di Komnas PA seperti Hotline Service, Divisi Layananan Anak, Divis Pusat Data dan Informasi dan Program Tobbacco Control yang dijalan oleh Komnas PA saat ini.
Seusai mengelilingi dan melihat langsung aktifitas di Komnas PA, peserta kembali ke Aula Komnas PA. Pihak Universitas Brawijaya kemudian memberikan cindramata kepada Komnas PA yang diterima oleh Arist Merdeka Sirait.(Man)

 

Iklan