Blog Komisi Nasional Perlindungan Anak

Surakarta,30 Juni 2011, Menjelang Konferensi Asia Pasifik tentang Kota Layak Anak yang diselenggerakan di Surakarta pada tanggal 30 Juni – 2 Juli 2011, sejumlah organisasi dan  masyarakat sipil peduli anak berkumpul di Surakarta pada tanggal 29 Juni 2011 dalam National Parallel Meeting : Menuju Kota Layak Anak, yang diinisiasi oleh Komnas Perlindungan Anak.

Dalam pertemuan ini terungkap bahwa indikator[i] yang digunakan untuk menilai sebuah kota /kabupaten sebagai kota layak anak adalah merupakan kumpulan dan akumulasi dari program yang ada pada beberapa kementerian. Karena itu, tidaklah heran kalau program kota layak anak tidak menyentuh dan memberi manfaat secara langsung kepada anak-anak, karena perspektifnya bukan pada anak tapi  program sektoral. Yang terjadi adalah para bupati/walikota berlomba-lomba membuat berbagai kebijakan yang “seolah-olah” berpihak kepada anak agar mendapat penghargaan Kota Layak Anak dari pemerintah. “Kota Layak Anak lebih pada aspek politik. Memang dari manajemen perkotaan, di dunia ada trend human city. Apakah kota Solo dan Kota-kota lain di Indonesia sudah memenuhi standar tersebut ? Kata Tulus Abadi, pengurus harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia

Tak heran bila  di kota yang disebut kota layak anak, ternyata masih ditemukan anak-anak yang tidak sekolah atau drop out dari sekolah; masih ditemukan anak jalanan dan pekerja seksual anak, anak dengan busung lapar, massifnya iklan dan kegiatan yang disponsori rokok, jajanan anak yang mengandung zat tambahan yang berbahaya bagi kesehatan, tidak tersedia ruang terbuka hijau dan sebagainya. “Jangankan sebagai kota layak anak, untuk manusia saja (kota Solo) tidak layak. Silakan lihat sendiri”, ungkap Jlitheng Suparman, seorang budayawan kota Surakarta dalam pertemuan tersebut.

National Parallel Meeting : Menuju Kota Layak Anak, menghasilkan rekomendasi berupa indikator menuju kota layak anak yang disampaikan kepada panitia Konferensi Asia Pasifik Kota Layak Anak. “Ini merupakan sumbangsih dari masyarakat sipil pada Konferensi tersebut. Kami mendesak agar rekomendasi ini dibahas pada konferensi tersebut sebagai agenda alternative. Karena faktanya persoalan anak sangat komprehensif, diperlukan komitmen dan partisipasi banyak pihak. Karena itu pula, sulit untuk mencapai predikat Kota layak anak, yang memungkin adalah “Menuju Kota layak Anak”, kata Arist Merdeka Sirait, ketua Komnas Perlindungan Anak yang juga SC National Parallel Meeting.

Indikator Menuju Kota Layak Anak, versi masyarakat sipil ini mengambil perhatian khusus pada persoalan Hak partisipasi dan persoalan perlindungan dari eksploitasi zat adiktif. Karena terhadap kedua persoalan ini, pemerintah masih setengah hati. Anak-anak difasilitasi untuk membentuk wadah partisipasi, namun suara dan rekomendasi anak bukannya didengar dan dihargai tapi “dibungkam”.[ii]. Sementara itu, pemerintah masih lebih mengutamakan kepentingan industri rokok, dari pada memberikan perlindungan kepada anak-anak dari eksploitasi zat adiktif seperti rokok dan NAPZA. Padahal beberapa kota seperti Padang panjang, Bogor, Payakumbuh, Palembang sudah terlebih dahulu berinisiatif menegakan kawasan tanpa rokok dan melarang reklame rokok di wilayahnya untuk melindungi anak-anak.

Demikianlah siaran pers ini disampaikan, terimakasih atas kerjasamanya.

 

Hormat kami

   Arist Merdeka Sirait                        Priyono Adinugroho

                                                                                        SC National Parallel Meeting                                Fasilitator

 

Contact Person :

Lisda Sundari 08567897799


[i] Pedoman Pelaksana Kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak, deputi Bidang Perlindungan Anak, Kemeneg PPPA RI, 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 7.426 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: